Persepsi Perempuan Tentang Kesetaraan Gender Dalam Islam Dan Politik - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 14 September 2021

Persepsi Perempuan Tentang Kesetaraan Gender Dalam Islam Dan Politik

Oleh: Ririn Dian Purnama*


Perbincangan tentang perempuan dalam Islam selalu berujung pada kesimpulan bahwa Islam tidak ramah terhadap perempuan. Posisi perempuan yang lemah dan inferior tergambar jelas dengan fakta empirik di masyarakat Islam maupun dalam lembaran-lembaran kitab ke-islaman.


Pertanyaan apakah betul watak Islam yang sejati merendahkan perempuan atau sebenarnya itu budaya di luar Islam ataukah pemahaman yang bias tentang Islam ?


Seharusnya bagaimana kita memahami tentang Islam dan bagaimana seharusnya posisi perempuan dalam Islam?


Umat Islam meyakini agamanya sebagai "rahmatan lil-alamin" artinya agama yang menebarkan rahmat bagi alam semesta. Salah satu dari bentuk rahmat itu adalah pengakuan terhadap keutuhan manusia yang setara antara perempuan dengan laki-laki. Karena, ukuran kemuliaan seorang manusia di hadapan Allah Swt di lihat dari prestasi dan kualitas ketakwaannya tanpa membedakan jenis kelaminnya.


Perempuan dan laki-laki sama potensinya untuk menjadi manusia bertakwa. Al-Qur’an tidak memberikan keutamaan kepada jenis kelamin tertentu, bahwa manusia mempunyai potensi yang sama untuk menjadi ‘abid dan khalifah.


Namun, praktek umat Islam terkait posisi perempuan, khususnya menyangkut relasi gender pada umumnya sangat distortif dan bias. Diantaranya menimbulkan pandangan marginal, subordinatif dan stereotif terhadap perempuan bahwa hawa selaku perempuan pertama tercipta dari bagian tubuh laki-laki yaitu Adam as. Hal ini membawa keyakinan bahwa perempuan memang pantas diposisikan sebagai subordinat laki-laki dia hanya sebagai the second human being. Manusia kelas dua. 


Beranggapan perempuan adalah bukan kelas utama melainkan hanya sekedar pelengkap diciptakan dari dan untuk kepentingan laki-laki, kosenkuensinya perempuan tidak boleh berada di depan tidak boleh menjadi pemimpin.


Tempat perempuan sebelum menikah di tempat ayahnya, setelah menikah ke rumah suaminya dan setelah menikah barulah perempuan mempunyai tempat tinggal sendiri yakni kuburannya


Perempuan juga ditempatkan sebagai tiang keluarga dan tiang negara, kalau kehidupan perempuan berantakan mesti dialamatkan perempuan karena tidak becus mengurus keluarga. Demikian jika negara kacau yang dipersalahkan perempuan karena dianggap sebagai pemicu korupsi, memarakkan prostitusi, pornografi, penebar fitnah dan stigma sejumlah lainnya. Hal inilah yang menimbulkan ketidak adilan dan ketidak kesetaraan gender.


Didalam women’s day studies encyelopedin bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat perbedaan dalam hal peran, perilaku, dan karakteristik imosional antara laki-laki dan perempuan. 


Konsep gender mengacu kepada seperangkat sifat peran dan tangung jawab yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan akibat bentukan budaya dan lingkungan masyarakat tempat manusia itu tumbuh dan dibesarkan bahwa dimasyarakat laki-laki digambarkan dengan sifatnya yang maskulin seperti perkasa, berani, rasional dan tegas. 


Sebaliknya perempuan digambarkan dengan sifat yang feminim seperti lembut, pemalu, penakut, emosional, rapuh dan penyanyang. Unsur maskulinitas dinilai positif daripada sebaliknya feminitas. Lebih fatalnya lagi bahwa maskulinitas dan feminitas tersebut dianggap sebagai hal yang kodrati. Padahal sesungguhnya merupakan hasil kontruksi sosial.


Namun jika diamati cukup banyak perempuan kuat, berani, ringkasnya masyarakatlah yang membentuk maskulinitas dan feminitas pada diri seseorang. Bentukan ini dibekukan sedemikian rupa melalui norma tradisi adat, budaya dan hukum, bahkan agama sehingga seolah-olah itu merupakan kodrat dan pemberianTuhan apa adanya sehingga tidak boleh dilanggar. 


Sesungguhnya perbedaan gender merupakan hal yang biasa saja sepanjang tidak mengakibatkan ketidakadilan gender. Akan tetapi realitas dimasyarakat menunjukkan perbedaan gender melahirkan berbagai bentuk ketimpangan atau ketidakadilan baik laki-laki terlebih lagi bagi perempuan. 


Ketimpangan gender terbentuk diantaranya burden atau pemberian beban kerja lebih panjang lebih berat dibandingkan laki-laki sebab mereka dituntut mampu menyeleseikan tugas-tugas rumah tangga bahkan di dalam masyarakat mengurus rumah dan anak itu sebagai kewajiban seorang perempuan. Ditambah lagi perempuan juga dituntut menunjukkan prestasi kerja yang baik ditempat kerja.


Timbullah istilah “beban ganda” karena pada umumnya laki-laki tidak bekerja ganda karena yang selalu di tuntut yaitu perempuan yang pada akhirnya menimbulkan ketidakadilan.


Perempuan juga harus mendapatkan pendidikan tinggi dan juga pekerjaan yang baik, bahkan perempuan juga harus bisa menjadi seorang pemimpin, setidaknya perempuan bisa menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri, pemimpin untuk anak-anaknya, karena perempuan itu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya kelak.


Perempuan juga harus belajar dalam segala hal bidang agar ia kelak tidak gampang ditipu oleh orang lain. Bahkan Perempuan juga harus belajar politik dan perlu mensosialisasikan diri. 


Ririn Dian Purnama (Kader Kohati HMI Cabang Yogyakarta) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here