Pemimpin Perempuan VS Pemimpin Laki-Laki - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 14 September 2021

Pemimpin Perempuan VS Pemimpin Laki-Laki

Oleh: Ririn Dian Purnama*


Apakah anda pernah mendengar bahwa "akan hancur suatu kaum apabila dipimpin oleh perempuan?"


Ungkapan tersebut, seringkali digunakan untuk memuluskan kepentingan tertentu misalnya saat perempuan mencalonkan diri sebagai pejabat publik. Akibatnya tidak sedikit orang yang terpengaruh dan percaya bahwa sejatinya perempuan tidak boleh memimpin.


Namun, apakah kita benar-benar yakin bahwa dalam Islam yang rahmatanlilalamin ini mendiskreditkan perempuan dalam ranah kepemimpinan? 


Sunggukah perempuan-perempuan dilarang Allah menjadi pemimpin atau justru itu hanya rekayasa tertentu dibangun atas kepentingan laki-laki? 


Ada banyak ulama yang menafsirkan dengan pendapat yang berbeda. Ada yang melarang tetapi ada juga yang mendukung. Munculnya hadis tersebut, juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan saat itu, dimana perempuan pada masa jahiliah dianggap golongan yang lemah. 


Seorang ahli kepemimpinan Jhon C. Maxwell, seorang ahli kepemimpinan internasional menyebutkan dalam bukunya bahwa kemampuan memimpin dibangun dari berbagai keterampilan yang hampir semuanya dapat dipelajari dan dikembangkan. Jadi? Semua orang bisa! Namun, proses tersebut juga tidak datang sekejap mata melainkan butuh latihan dan tekad yang luar biasa.


Meski saya perempuan, saya tidak ingin menjadi penyerang laki-laki, menyalahkan bahwa kondisi perempuan hari ini adalah salah mereka. Selain dari konstruksi sosial, ketidakmampuan perempuan muncul sebagai pemimpin juga sedikit banyak kekurangan ataupun kemauan diri. Merasa takut, tidak percaya diri, dan menganggap bahwa politik itu terlalu kejam dan tidak ramah perempuan.


Nah kalau begini, mau segencar apapun gerakan feminisme juga tidak akan membuahkan hasil apa-apa. 


Kesadaran bahwa mengembangkan diri tidak dibatasi jenis kelamin itu penting. Perempuan tidak bisa selalu menyuarakan feminisme untuk punya ruang dan melawan budaya patriarki, tetapi lupa bahwa dirinya harus punya kompetensi untuk berkompetisi. Harus berani maju dan tampil ke muka, bukan untuk menyaingi laki-laki atau ingin berontak ke semua orang tanpa pandang bulu.


Tetapi, membuktikan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dalam kepemimpinan, hak yang sama sebagai manusia. Apakah usaha ini bisa diterima dengan mulus? Tentu tidak setiap perjuangan selalu butuh kekuatan ekstra. 


Saat kita berusaha, hal terbaik yang kita dapatkan adalah kemenangan, terburuknya gagal. Tapi, minimal kita gagal dengan keberanian yang besar. Dan bukan bagian dari barisan orang-orang kaku yang tidak tahu kenikmatan menang atau kalah (Jhon C. Maxwell).


Ririn Dian Purnama (Kader Kohati HMI Cabang Yogyakarta)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here