Virus, Virtual dan Virtue - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 02 April 2021

Virus, Virtual dan Virtue

 

Ilustrasi by BeritaSatu.com

Manusia si homo Sapiens kehadiran tamu biologis berupa virus Covid-19 seakan menantang secara heroik tuk berduel menguji imun warisan yang telah ribuan tahun terwariskan. Seleksi alam rupanya kembali mendatangi tatanan kehidupan manusia. Kegemerlapan gedung-gedung pencakar langit, bangunan supermarket dan deretan kantor-kantor seakan tiada artinya dengan kehadiran mahluk mungil yang tak kasat mata yang bernama Covid-19. 


Segaligus menunjukkan satu diantara banyak kelemahan manusia yaitu betapa rentannya pertahanan tubuh manusia (imun). Betapa anomali dan kontrasnya manusia yang telah mengklaim sebagai mahluk berperadaban tinggi dengan pencapaian teknologi yang melampaui manusia-manusia terdahulu.


Tetapi, satu jenis virus membuat capaian manusia seakan tiada artinya. Kini bukan hanya manusia yang kesepian, namun gedung pencakar langit, hotel, mall dan bangun-bangunan lainnya turut tertimpa sepi. Dulu gedung-gedung dan bangunan itu menjadi simbol ketinggian, kemewahan dan keamanan yang super canggih. 


Kehadiran Covid-19 membuat satu kotak Pandora manusia sebagai mahluk yang "Lemah dan Rentan" terhadap berbagai gangguan menjadi terbuka. Hanya saja manusia memiliki kecanggihan pikiran untuk membuat sistem pertahanan diri. Rupanya pertahanan diri itulah yang mampu membuat manusia bertahan dari berbagai evolusi mulai dari evolusi DNA ke evolusi tatanan sosial. 


Seakan ungkapan "Polemos Pater Panton" membenarkan kondisi itu semua, bahwa manusia telah memasuki satu babad perang demi perang dalam hidupnya. Perang paling klasik dalam kehidupan manusia yakni perang secara alamiah untuk mempertahankan diri. 


Sebab manusia adalah mahluk yang Lemah dan Rentan membuat manusia dituntut lebih keras membuat mekanisme pertahanan diri. Manusia membuktikan keunggulannya meracik makanan dan merakit teknologi demi mengefisienkan segala kebutuhan hidupnya. 


Kini manusia setelah berada pada fase perkembangan teknologi secara visual dengan memasuki perkembangan tiga dan empat dimensi serta kini semakin ditingkatkan pencapaiannya. Seakan membuktikan bahwa manusia ingin memasuki ruang-ruang yang yang lebih dalam tiada batas lewat perkembangan visual.


Keasyikan manusia dalam menghadirkan teknologi super canggih membuat satu hal seakan terlupakan bahwa ada perang yang secara klasik masih terus berlangsung dan berkecamuk yang juga terjadi di ruang-ruang tak kasat mata dari jangkauan pandangan manusia. Perang secara alamiah yang terjadi dengan melibatkan imun manusia. 


Seakan lapisan-lapisan bangunan beserta fasilitas keamanan yang canggih menjadi tiada artinya, sebab imun sebagai benteng terdalam dalam hidup manusia kini tengah terancam. Teknologi yang berlapis-lapis menjadi lumpuh dan benteng terakhir (imun) tengah dipertaruhkan. Anehnya gudang-gudang senjata, tank dan rudal menjadi tak berdaya dan tak ada artinya. 


Musuh manusia yang dihadapi kali ini, bukan sejenis binatang liar atau mahluk yang tak tampak. Tetapi, mahluk mungil tak kasat mata yang membuat teknologi seakan melongo menyaksikan tuan mereka (manusia) terjangkiti dan mati tanpa ada perlawanan. 


Kondisi ini membuat manusia mesti kembali melakukan refleksi dan permenungan di tengah penyendirian atau pembatasan sosial bahwa secanggih-canggihnya­ kemajuan peradaban dan teknologi, manusia tidak boleh lupa tentang dirinya sebagai mahluk yang Lemah dan Rentan yang membuatnya bertahan bukanlah teknologi yang canggih tetapi kewaspadaan. 


Sebab si homo Sapiens (manusia) bukan tidak mungkin akan tersingkir dari kehidupan, bila benteng terakhirnya (imun) direbut oleh si mungil tak kasat mata (Covid-19). Manusia mesti kembali pada permenungan "Gnouti seauti" hanya dengan mengenal kediriannya sebagai mahluk yang akan membawa keselamatan (secara biologis) dan kecerahan (secara Virtue). Manusia hanya perlu sadar dan mengingat dialah si Sapiens mahluk lemah yang bertahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here