Ibrahim - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 11 April 2021

Ibrahim

 

Ilustrasi by Titidua.net 

Keluarga utama Ilahi begitu banyak perjalanan hidup Ibrahim menjadi menumental yang abadi dalam tradisi agama-agama.


Seakan beragama membuat kita akan menelusuri kembali jejak-jejak Ibrahim baik secara sosiologis dan historis maupun teologis. Kebiasaan Ibrahim telah membentuk dunia dan paham keagamaan. 


Segaligus membuktikan diri seorang Ibrahim tak akan pernah mati dalam kebudayaan manusia bersanding dengan Yang Ilahi. 


Hidup Ibrahim mengalami berbagai gejolak batin dalam mencari titik titian akan kebenaran. Proses batin yang mengembara dari satu titik ke titik yang lain, usaha yang demikian keras tanpa putus asa membuat pikirannya terasa hingga dari satu "Exampla" ke satu "Exampla" melahirkan subsitusi bahwa segala yang ada tentu ada pencipta dan tak mungkin pencipta itu akan padam dan tenggelam.


Berbekal pengembaraan batin itulah Ibrahim menunjukkan protes terhadap kepenganutan kepercayaan yang ada. Peristiwa bersejarah kepenganutan kepercayaan yang disimbolkan benda-benda mendapatkan penentangan.


Yang menarik Ibrahim lahir dari kasih sayang seorang bapak yang pembuat patung segaligus simbol kepenganutan kepercayaan itulah yang diprotes Ibrahim.


Begitu dramatis Ibrahim mula-mula mengalami gejolak batin kemudian mengalami gejolak dengan bapaknya dan memuncak gejolak dengan masyarakat. Protes Ibrahim telah berhasil meng-chaos-kan patung yang menjadi simbol kepenganutan kepercayaan masyarakat.


Siapa yang sangka sosok penyendiri seperti Ibrahim dengan gejolak batin mampu melakukan pelampauan terhadap kepenganutan kepercayaan?

Ibrahim mengawali hidup dalam kesendirian mencari titik titian kebenaran. Lalu, Ibrahim keluar dari kesendirian itu menyatakan protes dan efek dari itu Ibrahim melakukan diaspora.


Seakan dalam jejak-jejak sosiologis dan historis Ibrahim meletakkan geneologi protes terhadap kemapanan ritus dan tradisi kepenganutan kepercayaan yang malah menjauhkan dari titian kebenaran. Segaligus protes Ibrahim bervisi dakwah (menentang garis kemainstriman kepenganutan kepercayaan). Sungguh gejolak batin Ibrahim muda ada heroisme dan cita-cita ideal.


Diaspora Ibrahim ke tanah Kan'an membawa dampak perubahan besar. Secara perlahan tumbuh hingga mencapai garis kemapanan kepenganutan kepercayaan. Pertanyaannya, lupakah Ibrahim akan gejolak protes dan diaspora dalam jejak kepenganutan kepercayaan yang pernah dia lalui.


Ibrahim yang terdidik dalam kesendirian begitu mengenali bisikan-bisikan lembut yang telah mampu mendorongnya memecahkan kebisingan dengan suara-suara hantaman yang merobohkan simbol kepenganutan kepercayaan di tanah asalnya.


Bisikan itu kembali menghampiri Ibrahim di tengah kemapanan kepenganutannya, bisikan lembut itu berbunyi "Pengorbanan Putranya". Gusarkah dan gundakah Ibrahim? Atau dia sudah lupa bahwa kemapanan akan ada titik jenuhnya.


Ibrahim kembali menguatkan jejak-jejak kesendiriannya dahulu dan memutuskan ini berasal dari Yang Ilahi.

Bila dulu Ibrahim yang menjadi pelaku protes kemapanan kepenganutan kepercayaan, maka kini Ibrahim pula yang harus kembali mendongkrak kemapanan itu, segaligus kini Ibrahim menjadi sorotan sebab orang-orang disekitarnya begitu ramai berkicau dan menyoraknya.


Tetapi, ragukah Ibrahim?

Ibrahim mengambil jalan mengikuti bisikan lembut itu, Ismail (versi Islam) menjadi objek pengorbanan segaligus menambah daftar jejak teologis Ibrahim dalam pengembaraan kepenganutan kepercayaan. 


Bila dulu Ibrahim memprotes bapaknya, drama itu kini berbalik Ibrahim harus mengorbankan anaknya demi kepenganutan kepercayaannya. Sebuah jalan berliku, Ibrahim mampu menundukkan ego dan menuai jalan itu.


Kondisi batin yang begitu mantap dalam diri Ibrahim yang ditempa dari satu tindakan protes ke tindakan protes berikutnya.


Akhirnya Ibrahim sukses, kini jejak pengorbanannya menjadi pedoman kepenganutan kepercayaan.

Kisah yang sempurna Ibrahim meletakkan geneologi protes dan diaspora dalam jejak ajarannya. Apakah karena DNA sosiologis dan historis serta teologis itulah para penelusur jejak Ibrahim mesti mengalami gejolak demi gejolak?


Haruskah pengikut jejak Ibrahim kembali melakukan protes terhadap kemapanan sebagaimana Ibrahim dahulu?


Mestikah kita kembali meruntuhkan simbol-simbol itu yang kini telah menyerupai patung-patung sebagaimana yang pernah dirobohkan oleh Ibrahim.


Kini gejolak pengikut Ibrahim banyak mengikuti jejaknya dalam berdiaspora seperti negara-negara berpenduduk Islam yang bergejolak.


Apakah kita mesti sempura mengikuti jejak itu? Genelogi protes pun telah melahirkan cabang-cabang dalam mendobrak kemapanan arus utama dalam pengikut jejak Ibrahim.


Jejak Ibrahim mengajarkan satu landasan geneologi protes simbol perubahan sosial dan sosiologis.

Tetapi, sudahkah kita mengikuti jejak Ibrahim dalam kesendirian menelusuri tapak-tapak spiritual yang Ilahi sumber dari segala jejak-jejak sosiologis dan historis-nya.


Mungkin kita telah lupa dan kembali memperlakukan ajaran Ibrahim dalam kacamata materi seperti perjalanan haji dan berkurban. Sehingga jejak dan daya peka terhadap bisikan lembut tak ikut terwariskan secara sempurna kepada pengikut jejaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here