Demam Turki - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 11 April 2021

Demam Turki

 

Ilustrasi by Kanal73.com

Simbol kekuasaan Islam yang terakhir retak di tangan Turki Muda yang digawangi oleh Mustafa Kemal at-Tatur. Yang oleh pecinta dan pengagum Islam garis politik menjadi bulan-bulanan, ops Mustafa Kemal at-Tatur bukan hanya menjadi bulan-bulanan malah telah menjadi zaman-zamanan yang oleh lintas generasi pejuang Islam politik menjadi objek bulian dengan segenap serapah yang menyertainya mulai dari Sekuler, Liberal, pro-Yahudi, Pro-Barat hingga berbagai macam lebel disematkan pada bapak Turki tersebut. Tetapi, yang jelas Mustafa Kemal at-Tatur begitu pro-Turki.


Tetapi, benarkah hanya Mustafa Kemal seorang yang telah berjuang membawa Turki ke arah yang modern segaligus ingin mengakhiri Ottoman.


Cita-cita Turki modern yang lepas dari bayang-bayangan Ottoman telah tumbuh menjalar dalam diri generasi Muda Turki. Sebagai respon terhadap kelambanan dan kemunduran Ottoman yang telah tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara Eropa.


Upaya awal yang dilakukan generasi muda Turki dengan memperjuangkan perubahan konstitusi Ottoman. Demi membatasi kewenangan penguasa Ottoman. Namun, upaya perubahan secara konstitusional tidak berhasil malah hanya mengokohkan kekuasaan Ottoman.


Gerakan kesadaran di internal penguasa Ottoman muncul maka dimulailah gerakan "Tanzimat" sepadan dengan kata reformasi dan modernisasi. Namun, upaya itu mendapatkan penentangan keras dari golongan agamawan. 


Tetapi, satu hal yang disadari oleh generasi muda Turki bahwa "Tanzimat" membuka mata betapa perlunya gerakan perubahan bagi Turki.


Semangat nasionalisme telah menyebar dalam diri generasi muda Turki. Sehingga muncul kesadaran bahwa Turki tidak mengalami perkembangan akibat terlalu luasnya wilayah menyebabkan kemakmuran tidak bisa dicapai.


Perjuangan generasi muda Turki memperlihatkan momentum kala Ottoman kalah perang. Yang menyebabkan Ottoman dililit utang dan ancaman pendudukan oleh sekutu. Langkah penyelamatan kemudian dilakukan, maka Turki menyatakan diri sebagai Republik dan melepas serta menyerahkan tanggungjawab kepada masing-masing wilayah yang pernah menjadi bagian dari Ottoman.


Istilah mengambil separuh daripada tidak ada sama sekali menjadi pilihan Turki. Kondisi akan sedemikian rumit apabila Turki mengambil tanggungjawab besar, namun tuk diri sendiri belum tentu memadai. Walau Turki harus menanggung utang, tetapi masih lebih baik daripada menjadi negara terjajah.


Ibnu Khaldun sosok pemikir Islam telah meramalkan jatuh bangunnya kekuasaan, menyatakan bahwa "Penguasa generasi pertama cenderung memiliki kesadaran tuk menjaga semangat solidaritas, tetapi generasi berikutnya telah menikmati kemewahan yang membawa dampak pudarnya solidaritas kebersamaan". Bagi Ibnu Khaldun kemewahan membawa dampak terhadap terkikisnya solidaritas bersama. 


Pandangan Ibnu Khaldun agak senapas juga rupanya dengan Marxisme, hehe. Turki Ottoman tentu berbeda dengan Republik Turki yang sekuler. Turki yang banyak membayang-bayangi mimpi para pejuang Islam garis politik, apalagi Presiden Turki Erdogan buat kebijakan menjadikan Museum Haga Shopia sebagai mesjid seakan membawa angin syorga bagi Islam garis Politik.


Tetapi, namanya Turki tetaplah sekuler di sana tidak ada hari libur nasional tuk hari-hari Islam dan ingat "Kedutaan Besar Israel" ada lho di Turki.


Mustafa Kemal at-Tatur hanya menerapkan kebijakan tuk wilayah publik dilarang menunjukkan ekspresi keagamaan, tetapi di wilayah privat itu diberikan jaminan.


Ulama juga tetap tumbuh subur di Turki, malah mereka tidak meninggalkan tanah airnya (seakan mereka tidak mengenal pulang kampung, karena memang tidak lagi meninggalkan kampung), disana tak ada ulama mirip Bang Toyib yang tidak pulang-pulang, ops maaf.


Turki sekuler menghadirkan sosok ulama sekaliber Said Nursi. Demam Turki hanya semacam gejala bagi Islam garis politik yang tengah kehilangan kuasa di negeri sendiri dan mengambil contoh di negeri seberang jauh, namun dianggap berkilau bak permata.


Tetapi, lupa negeri sendiri pernah ulama jadi Presiden dan kini Wapres-nya pun ulama. Anehnya di negeri yang pernah ulama jadi Presiden dan kini Wapres-nya ulama masih saja disoraki "Sekuler, Liberal, Atheis, PKI, Komunislah dan tidak pro-Islam. Tapi, negeri Turki yang jelas-jelas secara konstitusi sekuler dikatakan Islami dan pro-Islam. Mungkin maha benar Islam garis politik dengan teori barunya Islam Sekuler ala Turki.


Kita tungguh kerangka konsepnya, ternyata bisa Islam dan Sekuler menghasilkan satu varian ssbagaimana Turki bila mengikut sangkaan Islam garis politik.

Kenyataan ini segaligus membuka mata bahwa pelan-pelan Islam garis politik menerapkan pemikiran Cak Nun (Nurcholish Madjied) mengenai sekularisme. Yang dimasa hidupnya, oleh banyak kalangan termasuk Islam garis politik menentangnya.

Tetapi, yang namanya demam akan sembuh juah bila telah dapat jatah, ops jatah obat maksudnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here