Reformasi Pendidikan - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 08 Maret 2021

Reformasi Pendidikan

 

Ilustrasi by MediaIndonesia.com


Alkisah seorang tokoh mahsyur bernama Nasaruddin Hoja melakukan tindakan nyeleneh menurut ukuran orang kebanyakan. Kisah itu bermula kala Nasaruddin Hoja tidak sengaja menjatuhkan jarum di bawah kolong rumahnya. Seketika Nasaruddin Hoja mencari jarumnya yang jatuh di dekat lampu penerangan jalan. 
Tingkah Nasaruddin Hoja mungkin saja akan ditertawakan bukan hanya orang sezamannya, namun juga orang-orang yang membaca kisahnya. 

Saat ditanya mengapa Nasaruddin Hoja mencari jarumnya yang jatuh didekat lampu penerangan padahal lokasi jatuhnya di rumahnya sendiri. Sontak, Nasaruddin Hoja menjawab "Karena, disini ada lampu penerangan". Mungkin anda akan menimpali Nasaruddin, kamu kok gitu. 
Tetapi, dari kisah Nasaruddin Hoja kita bisa belajar bahwa terkadang di tempat yang lama ada semacam sikap dan "habit" yang sudah mengakar dan agak sulit mengurai masalah yang ada.

Sebab, masalah sering kali berasal dari kebiasaan yang tidak disadari dan telah dianggap baik, padahal justru membuat kondisi akan semakin sulit. Mungkin untuk mengurainya perlu keluar dari rutinitas dan membandingkan dengan yang sudah berhasil.

Tetapi, bukan berarti harus banyak studi banding sebagai solusinya buat dunia pendidikan di Indonesia. 
Makna melihat dari sudut pandang kisah Nasaruddin Hoja kita bisa keluar dari jebakan kebiasaan lama yang kadang membutakan, untuk itu masalahnya bisa ada pada mesin birokrasi pendidikan dan mutu SDM pendidik. Segaligus memang perlu memperhatikan tenaga-tenaga pendidik yang berprestasi supaya spirit yang sama akan tertularkan pada yang lain. 
Bukan rahasia lagi dunia pendidikan bangsa ini, masih kurang memberikan apresiasi kepada mereka-mereka yang berprestasi. 

Rantai birokrasi yang telah mengakar mungkin tidak lagi berorientasi kepada pendidikan, melainkan telah bercampur dengan impian jadi pejabat ini dan itulah. 

Sehingga praktik dunia pendidikan kadang juga disusupi oleh ambisi yang telah membawa dunia pendidikan pada rimba perebutan jabatan. 

Fakta lapangan telah banyak mendapat sorotan mulai dari pungli biaya masuk sekolah dan penggunaan dana BOS yang tidak tepat sasaran serta gaji guru honorer yang melampaui batas wajar (sangat minim). 

Lalu, apa urgensi kurikulum A, B dan C serta yang lain kalau kondisi akar rumput dunia pendidikan demikian? Guru yang seyogyanya mencerdaskan, namun pada kenyataannya malah mencemaskan. Lalu, bagaimana melakukan reformasi pendidikan? 

Sistem dan kurikulum apapun yang diberlakukan apabila mutu SDM dunia pendidikan tidak dibenahi maka hasilnya sama saja. Sebab, pada dasarnya bukan soal sistem tetapi siapa yang menjalankan sistem. Semakin berkualitas SDM guru maka sistem dan kurikulum apapun yang diberlakukan pasti akan menunjukkan kualitas yang baik. 

Kita tahu ada banyak masalah pada dunia pendidikan, tetapi jauh lebih bermasalah dan menambah masalah apabila hanya moncomot sana-sini sistem dan kurikulum. 

Karena, semua itu hanya benda mati yang mesti diperhatikan dan yang utama sekali adalah kualitas SDM yang akan mencetak SDM bangsa yang unggul. Dahulu, kita pernah berbangga pada sosok Ki Hajar Dewantara sebagai Menteri Pengajaran yang melahirkan konsep "Tutwuri Handayani" yang melegenda. 

Tentu telah banyak upaya pemerintah lakukan demi memperbaiki kualitas dunia pendidikan mulai dari pemberian sertifikasi guru hingga dana BOS. Namun, harapan itu masih terlalu dini tuk mengumbar keberhasilan apalagi kondisi hari ini tak semudah biasanya. 

Kisah lain dari Nasaruddin Hoja, yang patut kita renungkan yakni kala Nasaruddin Hoja menghadiri sebuah jamuan, karena kondisi baju yang dikenakan biasa-biasa saja. Tetapi, saat Nasaruddin Hoja kembali ke tempat perjamuan yang sama dengan menggunakan baju yang berbeda maka perlakuan orang padanya menjadi berubah.

Mungkin dunia pendidikan dalam praktiknya dapat dijumpai kasus yang serupa dengan kisah Nasaruddin Hoja yang memberikan perlakuan berbeda dari siswa-siswa yang berasal dari kalangan elit. 

Terkadang yang berprestasi tak dapat ruang sebagai akibat adanya perlakuan khusus yang diterima siswa-siswa kalangan atas. Bila dunia pendidikan ingin maju maka perhatikanlah SDM-nya baik dari kalangan guru maupun siswa. 

Perlakuan yang sama dan setara menjadi salah satu pra-syarat kemajuan sebagaimana semboyan "Liberty, Egaliter dan Human". Jalan itu menjadi harapan demi reformasi dunia pendidikan, terlepasnya menterinya berasal dari kampus atau tidak. 
Fokus-nya mesti pada SDM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here