Genealogi kekerasan (Sebuah Refleksi atas Perjalanan Sejarah Manusia) - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 12 Maret 2021

Genealogi kekerasan (Sebuah Refleksi atas Perjalanan Sejarah Manusia)

 

M. Julkarnain


Dewasa ini kita disuguhkan dengan berita-berita anti-kemanusiaan lewat media seperti Facebook, WhasApp, Twitter, dan Instagram mulai dari intimidasi kelompok agama terhadap kelompok lainnya, pembunuhan mertua terhadap menantunya, pelecehan seksual seorang guru terhadap siswanya, dan lain sebagainya. Kekerasan ini dianggap oleh Johann Galtung sebagai kekerasan langsung.

Dulu orang baru mengetahui adanya suatu kekerasan apabila ia berada di lokasi kejadian untuk melihat dan memaknai aksi kekerasan tersebut. Namun sekarang, melalui globalisasi informasi seseorang dimudahkan untuk mengetahui peristiwa dehumanisasi lewat media komunikasi. Misalnya, kita bisa tau bagaimana presekusi kelompok agama terhadap kaum syiah di Sampang, walaupun kita berada di Makassar misalnya. Atau kita bisa tau perilaku destruksi Nazi atas kaum Yahudi di Jerman tahun 1956, walaupun kita berada di tahun 2021 lewat film Defiance.

Hermann Broch menganalisis perjalanan sejarah manusia pada periode normal dan abnormal. Periode normal ketika egoisme manusia belum begitu mencuak di tengah-tengah komunalnya, manusia masih mengedepankan nilai kebersamaan, seperti nilai keadilan, kesetaraan, dan persatuan. Tetapi, begitu egoisme manusia mulai merambat di tengah masyarakat dan mulai membajak nilai kebersamaan, maka lahirlah periode abnormal. Dalam periode ini, manusia  seperti "bangsa setan-setan" yang diandaikan oleh Imanuel Kant. Makhluk 'setan' seperti yang kita ketahui bersama adalah personifikasi dari nilai-nilai destruksi, seperti egois, mendominasi atau menunggangi, dan memandang "Yang Lain" sebagai objek yang dapat diekploitasi kapanpun dan dimanapun.

Dalam sejarah agama monoteisme, kita mendapati kisah tentang Habil dan Qabil, walaupun masing-masing agama memiliki narasi yang berbeda-beda tentang kisah tersebut, akan tetapi memiliki esensi yang sama. Dalam Sosialisme Islam, Ali Syari'ati menjelaskan Habil dan Qabil sebagai simbol dari manusia yang mengeksplotasi dan yang dieksplotasi dan dalam teori marxisme disimbolkan sebagai manusia borjuis dan proletar. Kedua simbol itu berkembang dan bertarung secara dialektis dalam masyarakat. Pertarungan "simbol" atau "kelas" mengimplikasikan kekerasan dalam berbagai motif bagi masyarakat. Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa kebaikan dan keburukan senantiasa ada dalam masyarakat.

Menarik analisis dari Johann Galtung tentang kekerasan, Galtung membagi kekerasan dalam beberapa bentuk, yaitu kekerasan langsung, struktural, dan kebudayaan. Galtung menjelaskan kekerasan langsung adalah pelaku dan korban merasakan secara langsung.

Kekerasan struktural adalah kekerasan yang menempel pada struktur bahasa, model interaksi sosial, maupun pada diskursus atau istilah dari Jurgen Habermas "Komunikasi yang Terdistorsi secara Sistematis" (Budi Hardiman, 2018: 132). Kekerasan kultural adalah kekerasan yang diberikan justifikasi oleh kebudayaan, sehingga membenarkan aksi-aksi kekerasan.

Mengapa manusia mau melakukan kekerasan terhadap orang lain? Thomas Hobbes menjelaskan sebagai sifat alamiah dari manusia. Maksudnya begini, kekerasan itu terjadi akibat kondisi epistemologis manusia. Dengan kata lain, konsep pengenalan diri manusia akan menjadi kerangka konseptual dalam menentukan perilaku maupun perbuatannya. Sedangkan, Rousseau menjelaskan selain kekerasan akibat kondisi alamiah manusia,  pengaruh lingkungan juga menjadi sebab manusia melakakukan kekarasan atas sesamanya. Maksud Reusseau dapa dijelaskan begini, relasi individu dan lingkungan adalah hubungan dialektis, yaitu individu dapat mempengaruhi arah perkembangan lingkungan dan begitupun sebaliknya, lingkungan dapat mendikte individu dalam perilaku maupun perbuatannya. Dengan kata lain, struktur masyarakat dapat mempengaruhi individu dalam melakukan kekerasan terhadap sesamanya. Misalnya, kita mengenal suatu nilai primordial yang dimuliakan oleh penganutnya, sebut saja "Kami Adalah Manusia Pilihan". Nilai primordial itu menjadi kerangka konseptual dalam memaknai mana yang baik dan mana yang buruk. Disini, yang baik diartikan sebagai "yang sesuai dengan kelompok mereka" dan yang diluar kelompok mereka sudah tentuk buruk. Cara berpikir seperti ini syarat dengan logika destruksi, sehingga mempolarisasi mana kawan dan mana lawan.

Demikianlah kekerasan berkembang dalam perjalanan sejarah manusia menjadi beberapa bentuk dan memiliki motifnya sendiri. Dulu orang memaknai kekerasan ketika seseorang melukai, seperti memukul, mencubit dan bahkan membunuh. Namun sekarang, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kekerasan bukan hanya berkaitan dengan kontak fisik, tapi merampok uang seseorang atau merampok uang rakyat yang disebut sebagai korupsi juga termasuk kekerasan dalam arti merugikan orang lain. Disini kita bisa mengartikan kekerasan dalam dua pengertian, yaitu melukai dan merugikan. Melukai berarti menyiksa orang lain, dan merugikan berarti mengambil hak orang lain.

Akhir-akhir ini di media informasi menayangkan berita tentang bencana alam seperti banji Sul-Sel, tsunami di Palu, dan longsor dimana-mana. Bencana alam telah merenggut korban nyawa, terluka, dan juga kelaparan akibat ketiadaan sumber makanan. Hal ini tentu sudah menjadi perhatian kita bersama sebagai warga negara, dan tentu sudah sepetutnya kita bukan hanya memikirkan peristiwa itu, tapi juga memikirkan solusi apa yang dapat mengantisipasi agar bencana alam tidak lagi terjadi.

Bukankah tragedi kemanusiaan akibat bencana alam yang dasyat adalah sebuah kekerasan. Maksud saya adalah, bencana alam terjadi akibat perbuatan manusia sendiri yang sering menebang pohon dan membuang sampah ke sungai maupun laut, sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan alam, dapat disebut sebagai kekerasan terhadap alam. Tu Wei Ming mengatakan bahwa, kekerasan terhadap alam memiliki akar epistemiknya dalam alam pikir "Pencerahan". Dimana subjek dianggap sebagai subjek kebenaran dan alam dianggap sebagai objek yang dapat dieksplotasi oleh manusia. Dengan kata lain, relasi manusia dengan alam adalah sebagai pengamat yang terlisah dari alam, bukan dianggan bagian dari alam.

Saya tidak bermaksud mengundang amukan massa (kaum konservatif), saya hanya ingin mengaktifkan sel-sel saraf dalam otak agat akal kita berpikir. Misalnya, saya ingin mengajukan satu pertanyaan yang mungkin meresahkan telingan bagi mereka yang tidak terbiasa berpikir "berat", yaitu: "Jika Tuhan Maha Kuasa, Mengapa Tuhan Tidak Menghilangkan Kekerasan di Muka Bumi Ini?"

Disini saya tidak akan menjawab pertanyaan ini, bukan karena saya tidak memiliki jawaban,  melainkan pertanyaan itu soal lain, yang bisa dijawab dengan satu tulisan khusus. Dari pertanyaan itu, saya menyadari hal lain, yaitu kekerasan tidak terjadi begitu saja atau bertebaran di Medsos begitu saja, melainkan ada sebab-sebab tertentu yang menciptakan kekerasan. Sebeb-sebab itu bisa berarti perasaan benci seseorang terhadap orang lain.

Sehingga dia membunuhnya, (kekerasan langsung), bisa berarti keinginan mendominasi, sehingga mengeksplotasi yang lemah seperti pemerintah yang otoriter (kekerasan struktural).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here