Apa jadinya pria tanpa sahabat? - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 06 Maret 2021

Apa jadinya pria tanpa sahabat?

 

Ilustrasi by liputan6.com

Kala "New Normal" itu sudah sedemikian menggairahkan, aktivitas sedikit agak diperbolehkan dengan mematuhi protokol kesehatan. Kayak pejabat aje, pake protokol segala. Tapi, tunggu dulu bukankah di masa "New Normal" ini banyak yang juga ngimpi ingin jadi pejabat. Padahal jadi pejabat kadang ngga enak, suka diatur ini dan itulah oleh protokol. 


Maaf yah, kalo agak melebar sekedar upaya supaya nda membanjiri soalnya ini terlampau berat tuk dituliskan. Apalagi ini menyangkut seorang sahabat yang akan melintas pulau seberang nan hijau tempat bumi perantau menyusun kerangka kemapanan finansial. 


Justru ini, yang membuat tulisan ini agak berat kutuntaskan sebab ini akan jadi episode tulisan melankolis yang berjilid-jilid bak senetron aje. Merantau akan meninggalkan bumi pertiwi tumpah kasih dan sayang. 


Namun, apa hendak diucap pertautan dan perjuangan nasib menghendaki alur sejarah demikian. Rasanya ini, hanya semacam pegangan dan bekal kecil dari saya padamu saat melintasi selat perjuangan dan semoga saja kapal membawamu sandar di tanah kejayaan.


Ingatlah ada sahabatmu yang menanti kabar dan ceritamu dari pulau seberang. Kutahu keberangkatanmu akan terasa berat meninggalkan tanah kelahiran itu tidak mudah butuh menguatkan jiwa. Ingatlah para perantau sukses bukan tanpa tangis yang menyertai, di tangan perantau "Tanjung Harapan" tercipta dunia baru akan terjelajahi.


Buatlah harum namamu di tanah rantau hingga kelak keharuman itu menyebar di tanah kelahiranmu. Percayalah mesti pita suaraku tak akan menjangkau gemanya hingga di pulau seberang. Tapi, bukankah angin menjadi pembawa kabar yang paling bersahabat berhembus bersama hembusan pesan persahabatan. Perantau tangguh memang harus bersabar tuk kembali melihat derma pertama yang ia tinggalkan. Tapi, saat ia kembali kehadirannya akan disambut.


Rasanya minggu depan kutak akan kuat mendatangi kota yang ramai tanpa kehdiranmu di kota itu. Tapi, apa boleh buat sebagai sesama perantau kita ditakdirkan sebagai pria yang harus menenun sepi tanpa kehadiran sahabat. Semoga hari-hari itu akan menguatkan kita, sebab pria yang sendiri tanpa sahabat akan jauh melankolis dan semoga kita tetap produktif. Walau sedikit nada dan dialog sunyi terhubung lewat kata-kata rindu.


Sahabat kita pasti akan kembali bertemu, mari kita susuri jalan kehidupan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here