Yesus dan Murid-Muridnya Juga Menggunakan Mata Uang Dinar dan Dirham - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 03 Februari 2021

Yesus dan Murid-Muridnya Juga Menggunakan Mata Uang Dinar dan Dirham

 

Ilustrasi by Wikipedia.org

Mumpung lagi rame dibicarakan. Tidak ada salahnya saya memperkenalkan sedikit tentang asal usul dan sejarah penggunaan mata uang Dinar dan Dirham. Kenapa Umat Islam harus mengerti sejarahnya, agar kita paham, supaya jangan sampai merasa ingin lebih Islami, tapi justru menjadi lebih Kristiani atau Yahudiani.


Mata uang Dinar dan Dirham adalah salah satu alat pembayaran tertua di dunia. Dirham dan Dinar sudah ada sejak era awal Masehi. Ketika Yesus dilahirkan ke dunia oleh Maria sang Perawan, mata uang tersebut sudah dipergunakan sehari hari oleh bangsa Israel, Romawi dan suku suku yang ada di Timur Tengah, termasuk bangsa Quraish.


Itu sebabnya mata uang ini bukan hanya disebut dalam Islam, tapi sudah ada lebih dari 600 tahun sebelum kelahiran Rasulullah SAW. Dalam Alkitab, kedua mata uang tersebut bahkan sudah disebutkan nilai nominal dan kegunaannya. Agar lebih jelas, silahkan simak ayat ayat yang saya kutip dari Alkitab (Injil) berikut :


Matius 17:24

Ketika Yesus dan murid murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata “Apakah gurumu tidak membayar bea DUA DIRHAM itu ?”


Matius : 17:27

Dan ikan pertama yang kau pancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang EMPAT DIRHAM di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga


Matius 20:2

Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah SATU DINAR sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.


Ketika Islam datang lebih dari 600 tahun kemudian, Rasulullah menerima keberadaan mata uang dinar dan dirham  sebagai alat pertukaran dan pembayaran, Penerimaan Rasululllah  akan mata uang dinar dan dirham disebut sebagai sunnah taqririyah (pengakuan dan penerimaan nabi atas praktek yang ada pada saat itu.)


Dalam makalah, “Sejarah Penggunaan Mata Wang Dinar” yang dipresentasikan pada National Dinar Conference di Kuala Lumpur, (2002) mengatakan bahwa mata uang dinar telah mulai dicetak dan digunakan sejak masa awal pemerintahan Islam. Namun, kata “dinar” bukanlah berasal dari bahasa Arab, tetapi  berasal dari bahasa Yunani dan Latin.


Secara bahasa, dinar berasal dari kata Denarius (Romawi Timur) dan dirham berasal dari bahasa Aramaic-Persia yaitu dari kata Drachma (Persia). Dalam versi lain dikatakan dirham diambil dari uang perak “Drahms”, yang digunakan orang-orang Sassan di Persia. Drahms telah diambil dari nama uang perak “Drachma” yang digunakan oleh orang-orang Yunani.


Dalam sejarah umat Islam, Rasulullah dan para sahabat menggunakan dinar dan dirham sebagai mata uang mereka, disamping sebagai alat tukar, dinar dan dirham juga dijadikan sebagai standar ukuran  hukum-hukum syar’i, seperti kadar zakat dan ukuran pencurian. Pada masa kenabian, uang dinar dan dirham digunakan sebagai alat transaksi perdagangan oleh masyarakat Arab.


Dinar dan Dirham yang pertama sekali digunakan umat Islam,  dicetak oleh orang-orang Persia. Mata uang yang pertama dicetak itu adalah Dirham perak Sassanian Yezdigird III dalam bentuk koin (logam) yang selanjutnya digunakan umat Islam untk pertama kalinya dalam sejarah Islam.  Tahun 20 H, Umar bin Khathab mencetak dinar baru dengan pola tetap seperti dinar Romawi hanya di tambah lafadz Bismillah dan  Bismillaahirrohmaanirrohiim.


Dinar dan Dirham yang digunakan pada masa Khalifah Usman bin Affan juga tidak jauh berbeda dengan koin yang digunakan bangsa Persia, kecuali perbedaan penulisan bahasa di sisi uang Dirham tersebut. Penulisan bahasa Arab dengan nama Allah dan bagian dari ayat-ayat al-Qur’an di Dinar dan Dirham sudah menjadi budaya umat Islam kala itu tatkala mencetak uang Dinar.


Dinar dan Dirham dicetak pertama kali pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 695 M/77 H. Beliau mengarahkan Al-Hajjaj untuk mencetak Dirham dengan nilai 10 Dirham yang mempunyai harga sama dengan 7 Dinar (mithqal). Setahun kemudian, beliau menyerukan agar Dinar dicetak dan digunakan di seluruh wilayah kekuasaannya. Di koin Dinar itu, kata-kata “Allah adalah Esa” dan “Allah adalah Abadi” ditulis menggantikan gambar-gambar binatang yang sebelumnya tertera di Dinar.  


Sejak saat itu, uang Dinar telah pula dicetak berbentuk bulat, di satu sisi bertuliskan “La Ilaha Illallah” dan “Alhamdulillah” dan di sisi lain tertera nama Khalifah yang mencetak uang dan tanggal pencetakannya.


Kemudian, sudah menjadi hal yang lumrah, di atas koin Dirham ditulis “Sallallahu ‘Alayhi Wa Sallam” dan kadang-kadang ditulis pula potongan ayat-ayat al-Qur’an. Dinar dan Dirham tetap menjadi mata uang sah umat Islam kala itu sampai runtuhnya khalifah Islamiyah. Sejak keruntuhan khalifah Islamiyah, berbagai jenis dan bentuk uang kertas dan logam (fiat money) mulai diperkenalkan.


Menurut hukum Islam, uang dinar yang dipergunakan adalah setara 4,25 gram emas 22 karat dengan diameter 23 milimeter. Standar ini telah ditetap pada masa Rosulullah dan telah dipergunakan oleh World Islamic Trading Organization (WITO) hingga saat ini. Sedangkan uang dirham setara dengan 2.975 gram perak murni. Dinar dan dirham adalah mata uang yang berfungsi sebagai alat tukar baik sebelum datangnya Islam maupun sesudahnya (Sanusi, 2002).


Andi Atthira


Source : Dari berbagai sumber, Makalah, Republika dan Alkitab Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here