Selingkuh, Berselingkuh, Menyelingkuhi dan Diselingkuhi Secara Konotasi Bermuatan Negatif - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 21 Februari 2021

Selingkuh, Berselingkuh, Menyelingkuhi dan Diselingkuhi Secara Konotasi Bermuatan Negatif

Adam Malik*

Akhir-akhir ini kita menyaksikan dari berbagai sumber informasi, seorang seleb di isukan terlibat kasus perselingkuhan yang tidak lain adalah rekan kerjanya sendiri. Sebenarnya isu perselingkuhan itu bukan hal baru di telinga publik.


Perselingkuhan di hukumi oleh masyarakat sebagai tindakan yang tidak etis dan melanggar norma sosial dan agama. Bahkan agama tertentu memberikan opsi penghukuman yang berat.


Berselingkuh, menyelingkuhi, dan diselingkuhi. Selingkuh memiliki berbagai makna yang secara konotasi bermuatan negatif. Selingkuh identik dengan pengkhianatan, kedustaan, kebohongan, kemunafikan dan semua variabel kata-kata negatif tertuju pada kata “selingkuh”.


Persepsi tentang “selingkuh” terakumulasi dalam bawah sadar masyarakat sebagai upaya dan tindakan tidak bermoral. Sehingga pelakunya akan di hukumi sebagai orang tak bermoral.


Lalu bagaimana jika pelakunya seorang yang di akui publik sebagai orang baik, Agamawan, memiliki reputasi tinggi di masyarakat? Bagaimana cara kita menghakimi pelaku seperti ini?.


Tidak selamanya yang religius akan baik, bisa jadi itu hanyalah kamuflase, begitu pandangan sebagian publik menilai kasus selingkuh.


Tidak ada korelasi antara penampilan alim, dengan sikap bermoral. Seseorang kadang hanya menjadikan simbol agama untuk menutupi kebusukannya.


Publik tidak mengikutsertakan antara pelaku, agama, dan tindakan tidak bermoralnya. Agama akan di pisahkan oleh publik dari dirinya. Lalu, muncul pula pertanyaan, jadi selama ini agama hanya jadi apa untuk dirinya?. 


Publik itu adalah polisi moral, mereka menilai dan penilaian tersebut terakumulasi menjadi pandangan besar secara umum


Perselingkuhan tersebut setidaknya ikut serta dalam menciderai sebuah ritus, simbol, bahkan status agama tertentu. Bagaimana tidak, selama ini pundi-pundi harta telah di petiknya dari mengobral simbolisme keagamaan yang begitu sakral di masyarakat.


Ujian terberat bagi penebar kalimat kebijaksanaan adalah kalimat kebijaksanaan yang di ucapkannya sendiri. Teguhlah dalam prinsip moral. Banyak batasan sosial yang harus di jaga.


Nafsu, hasrat bukan objek yang salah, yang salah adalah cara menempatkannya


Adam Malik (Direktur Fides Channel)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here