Petani - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 28 Februari 2021

Petani

 

Ilustrasi by WordPress.com


Kisah mereka tak seindah kala menanak nasi di dapur. Meski para petani memanen padi namun itu bukanlah jaminan bagi dapur mereka tetap mengepul.

Hasil panen hanya menggembirakan mata tapi saat transaksi dengan para pengepul kebahagiaan pun sirna harga tak sebanding jerih payah.
Sang petani yang mandiri membajak sawah yang jadi simbol petani berdikari, yang oleh Bung Karno dinamai Pak Marhaen. 

Tipologi petani semacam itu, mungkin hanya ditemui oleh Bung Karno di zamannya atau hasil olah pikirannya. Sebab nyatanya "Tanah dan Air" Indonesia yang semestinya menjadi jaminan bagi petani membajak tanah dan ketersediaan air menjadikan Indonesia betul-betul real merdeka dan Berdikari (Berdiri Di Atas Kaki Sendiri).
Lalu, kapankah para petani betul-betul merdeka?

Bukankah perangkat pertanian dari tingkat atas hingga bawah telah terstruktur sedemikian rupa. Namun, mengapa para petani belum juga mampu tumbuh dengan hasil yang menjanjikan.
Bila melihat kenyataan yang ada lahan pertanian banyak yang mengalami alih fungsi lahan. Yang paling marak berubah menjadi kompleks perumahan atau BTN.

Untuk itu, perhatian pemerintah terhadap dunia pertanian semestinya lebih digenjot lagi. Maaf bukan malah mengkampanyekan kalung anti-Corona, lebih baik itu jadi konsen Kementerian Kesehatan.

Kementerian Pertanian lebih baik fokus menyiapkan berbagai riset, teknologi dan infrastruktur pertanian. Bila petani mendapatkan pendampingan berupa hasil riset terkait perkembangan dunia pertanian dan kelender pertanian mungkin akan memberikan efek bagi petani.

Mengingat beberapa kendala yang saat ini tengah dialami para petani seperti perubahan musim yang membuat pergeseran terjadinya musim hujan. Sehingga petani terkadang kesulitan memprediksi datangnya musim penghujan sebagai akibat perubahan musim. Tetapi, bila ada kelender pertanian akan memudahkan para petani mengetahui datangnya musim hujan.

Bila kita benar-benar ingin memperhatikan para petani maka mulailah dengan memberikan pendampingan kepada para petani. Bekali petani dengan hasil riset demi menciptakan ekosistem pertanian yang  berkualitas.

Para petani rindu zaman B. J. Habibie yang harga komoditas pertanian begitu menjanjikan. Namun, apa boleh buat politik berkata lain?

Para petani hanya bisa mengenang masa B. J. Habibie sebab kini harga pertanian hanya meregang pilu tak sebanding dengan jerih payah petani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here