Perempuan dan Pandemi - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 19 Februari 2021

Perempuan dan Pandemi

 

Andi Nurul Abidah Ramli, S. Ked 

Di sektor politik, perempuan harus bisa kritis menanggapi persoalan-persoalan yang menyangkut keberlangsungan hidupnya dan orang banyak serta politikus perempuan pun sebagai representasi perempuan di parlemen harus mampu memberi solusi dengan mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap perempuan


Terdapat banyak catatan buruk pemerintah dalam mengambil keputusan selama pandemi covid 2020 tahun lalu misalnya upaya menarik wisatawan ke Indonesia ketika mulai muncul covid 19 di negara-negara tetangga dan lambatnya pemberlakuan pembatasan sosial. Sebenarnya kejadian tersebut adalah imbas dari pembagian kekuasaan dan sumber daya dalam suatu negara. Dampak negatif skema pembangunan yang mendahulukan kepentingan ekonomi secara sempit hanya dirasakan oleh mereka yang berada di pusat kekuasaan.


Penanganan COVID-19  tidak terlepas dari struktur ekonomi politik yang timpang. Kelas menengah ke atas bisa bekerja dari rumah atau work from home. Namun banyak pekerja yang tetap harus mengambil resiko untuk tetap bekerja karena tidak diliburkan atau karena mereka memiliki penghasilan harian. 


Pemerintah bahkan tidak berkenan menetapkan karantina wilayah. Salah satunya karena pemerintah berkeberatan untuk menanggung biaya hidup warga dan selama masa karantina. Hal ini membuat banyak pekerja miskin tetap harus berjuang mencari nafkah di tengah pandemi.


Perselisihan para elit juga membuat penyaluran sumber daya negara menjadi lamban. Birokrasi negara terpecah-pecah dengan koordinasi yang buruk karena mereka berada pada lingkaran elite yang berbeda. Bahkan, dalam kondisi pandemi pun, elite politik masih ngotot mengesahkan RUU kontroversial seperti RUU Omnibus Law Cipta Kerja dan RUU Minerba.


Terkait peran perempuan menghadapi pandemi covid 19 tentunya sangat penting. Bisa di mulai dari ruang lingkup terkecil yaitu diri sendiri dan keluarga. Perempuan harus bisa menjaga diri mereka dan memastikan mereka dalam keadaan sehat dengan mematuhi protokol kesehatan dan menjaga asupan gizi selama pandemi. Hal yang paling penting adalah, perempuan harus bisa memberi pemahaman kepada orang-orang terdekat terutama keluarga untuk mematuhi protokol kesehatan, menjaga keluarga mereka, serta mencari alternatif agar anggota keluarga betah di rumah misalnya dengan membuat varian masakan baru untuk keluarga dan yang lain.


Perempuan di segala sektor harus mampu  menjadi lini terdepan. Dalam sektor ekonomi, perempuan bisa membantu perekonomian keluarga yang merosot di tengah pandemi covid melalui berdagang atau berwirausaha. Di sektor politik, perempuan harus bisa kritis menanggapi persoalan-persoalan yang menyangkut keberlangsungan hidupnya dan orang banyak serta politikus perempuan pun sebagai representasi perempuan di parlemen harus mampu memberi solusi dengan mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap perempuan.


Andi Nurul Abidah Ramli, S. Ked (Ketua Gerakan Pemuda Ka'bah Kabupaten Sinjai & Dokter Muda)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here