Nurdin Abdullah - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 28 Februari 2021

Nurdin Abdullah

Nurdin Abdullah


Tak ada yang menyangka bahwa seorang pesohor dari Timur, gubernur bergelar professor, kebanggaan utama warga Sulawesi Selatan, terciduk di kediamannya saat sedang tidur. 

Pagi-pagi sekali, Sabtu, 27 Februari 2021, melalui WA keluarga, adik saya mengirim kronologi dan foto-foto Nurdin Abdullah sedang berjalan di bandara Sultan Hasanuddin, siap-siap diberangkatkan ke Jakarta untuk diperiksa lebih lanjut. Dalam benak saya, seperti apa kira-kira isi pikiran Nurdin Saat itu, langkahnya gontai seperti biasa, tapi sedikit lebih lunglai, pikirannya mungkin sedang diselimuti awan gelap. 

Lebih dramatis lagi pada beberapa jam berikutnya, melalui WA komunitas, saya menonton Nurdin dengan celana jeansnya menghadap ke tembok. Haduh, bangsawan bergelar profesor ini berdiri lama sambil mendengar penjelasan pimpinan KPK menguar aibnya. Itu seperti anak SMP yang ketahuan mencontek dan disuruh berdiri satu kaki sambil pegang telinga di depan kelas. 

Berbagai informasi muncul di WA dan juga televisi milik keluarga istri di Luwu Timur. Saya mengikutinya dengan sedikit serius, walaupun tidak terlalu memberikan tanggapan. Entah kenapa. Mungkin dalam alam bawah sadarku, peristiwa korupsi di Indonesia sudah identik. Sehingga bukan menjadi barang baru. Walaupun yang ditangkap itu adalah Professor yang dianggap telah melakukan banyak hal. 

Apalagi dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah kenyang menyaksikan atau mendengar praktik-praktik korup orang-orang sekitar meski dengan bilangan-bilangan kecil. Mulai dari dana organisasi yang digunakan semena-mena oleh pengurusnya, dana konsumsi atau kegiatan yang dimarkup, praktik-praktik kerjasama dengan pihak ketiga, atau persenan-persenan yang diminta oleh penyelenggara anggaran. Barangkali, di antara kita semua, pernah memakan, atau setidaknya turut menikmati hal-hal yang berbau korup, seperti gratifikasi atau semacamnya, yang bentuk paling kecilnya yaitu ditraktir makan atau ngopi. 

Olehnya itu, mengurai korupsi di Indonesia begitu ribet, karena sepertinya sudah menjadi gula dalam teh manis. Apalagi dengan praktik nepotisme yang juga adalah akar korupsi, masih gila-gilaan di negeri kita tercinta ini. Kita masih selalu mendahulukan keluarga atau kerabat untuk masuk dalam sistem yang mestinya melalui seleksi ketat. Meritokrasi sepertinya masih jauh sekali. Padahal, meritokrasi adalah prasyarat untuk menghasilkan sistem yang baik, berbasis kualitas dan kompetensi. Sehingga, yang utama bagi kita saat ini, bukanlah kualitas, tapi lebih pada koneksi atau yang biasa kita sebut sebagai jaringan/kenalan, atau kasarnya lagi sebagai orang dalam. 

Budaya meritokrasi sebagai prasyarat kemajuan, seperti yang telah berlangsung di RRC dengan penekanan aspek sosialisme ilmiah beberapa dekade lalu, yang terbukti menghasilkan generasi unggul kini, atau Jepang yang kita kenal semua dengan budaya Bushido kaum samurainya, atau ambillah contoh Singapura dengan etika Confusiannya. Atau yang paling kita kenal adalah penelitian Max Weber tentang masyarakat eropa dalam teleskop pengaruh etika protestan. 

Kita di Indonesia dengan pencampuran pengaruh budaya Islam, hindu, budha maupun pengaruh tradisional lokal/etnik di masing-masing wilayah, sepertinya belum mampu memberi daya ungkit untuk menghasilkan satu sistem sosial yang mendukung budaya meritokrasi, membatasi praktik-praktik hubungan relasi feodal seperti semangat persepupuan ataupun klientisme, yang menjadi bahan baku pemanfaatan wewenang untuk kepentingan diri sendiri ataupun kelompok. 

Padahal, pada masa-masa awal republik, kita sempat disuguhi oleh pribadi-pribadi unggul yang memiliki kepribadian asketik. Contoh paripurnanya yaitu Moh. Hatta, yang seumur pengabdiannya memperlihatkan karakter jujur dan terhormat, tidak tergoda untuk mengambil manfaat dari jabatannya untuk kesenangan pribadi. Begitu halnya Soekarno, yang rela melarat di penjara bertahun-tahun demi cita-cita Indonesia merdeka sebagai jembatan emas kemakmuran. Atau seperti Sjahrir yang dengan semangat cendekianya terus menerus melatih pemuda untuk berfikir rasional dan mandiri. Belum lagi sosok Tan Malaka, yang sebelum meninggal hanya mempunyai harta beberapa potong baju dan sebuah jam tangan. 

Jembatan emas ini berhasil dibangun, melalui semangat persatuan Soekarno, yang dengan rumusan pancasila-nya berhasil menyatukan berbagai golongan dan pemikiran di republik tercinta ini. Namun, perjalanan bangsa ini penuh tikungan dan drama, yang salah satunya disebabkan oleh begitu banyaknya kepentingan pihak-pihak luar ataupun oknum-oknum tertentu terhadap kekayaan alam dan budaya di Indonesia. Indonesia hanya dilihat sebagai sumber material bahan baku, ekstraksi hasil sumberdaya alam, namun belum bisa memanfaatkan kekuatan budaya, jumlah penduduk dan keanekaragaman hayati ini sebagai kekuatan utama untuk kemakmuran rakyat. 

Perangkap situasi yang mendukung prilaku jahat ini pun menghasilkan sistem pendidikan, yang hanya berorientasi pada skema industri, teknologi ataupun modernisasi. Dengan kurangnya penekanan pada semangat integritas yang diperoleh dari nilai-nilai budaya lokal ataupun penyerapan nilai-nilai unggul dari budaya lain untuk diserap secara selektif melalui rangkaian strategi kebudayaan. Sehingga, yang muncul adalah konsep link and match, pelajar hanya dilihat sebagai calon pekerja yang siap menjadi buruh/kuli pabrik ataupun birokrasi. Sedangkan yang dibutuhkan adalah kader-kader bangsa yang memiliki kemampuan nalar yang kuat, perasaan yang halus, keterampilan tangan, dan tekad yang kuat. Atau seperti yang didefinisikan oleh Amartya Sen (peraih hadiah nobel ekonomi 1998) bahwa pendidikan bertujuan untuk peningkatan kualitas hidup, bagi dirinya maupun bagi orang di sekitarnya. Di Indonesia, salah satu sosok yang mengedepankan hal ini adalah Ki Hajar Dewantara.

Menanggapi peristiwa penangkapan Nurdin ini, saya ingin mengutip pernyataan Yudi Latif dalam buku Pendidikan yang Berkebudayaan, "Pendidikan sebagai proses manipulatif, dengan menjadikan anak didik sebagai sarana eksploitasi proyek, adalah modus pembudayaan yang paling efektif untuk mencetak mental korup. Berapa pun angkatan terdidik yang dihasilkan oleh sistem itu tidak akan pernah menjadi kekuatan pembebasan bagi bangsa ini, malahan menjadi penindasan. Di tangan orang-orang pintar dengan mental korup, kekayaan negeri ini, sebanyak apa pun itu tidak akan menjadi sumber kemakmuran bersama, melainkan sumber eksploitasi perseorangan dan golongan serta kepentingan bangsa lain". 

Membaca kutipan ini, begitu ngeri membayangkannya. Nurdin telah tertangkap. Membuat sekian banyak warga Sulsel kecewa. Akan tetapi, kita mesti belajar untuk menerima kekecewaan seperti ini. Sepertinya, seorang Nurdin, tak sanggup menghadapi berbagai cobaan dan godaan yang demikian besar ini. Dan, sebagai warga Sulsel yang memilih-mu dahulu, Saya telah memaafkanmu Nurdin. 

Tegar-tegarlah menjalani nasibmu Nurdin

Idham Malik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here