Mendaras fenomena, "Hijrah" Generasi Milenial - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 17 Februari 2021

Mendaras fenomena, "Hijrah" Generasi Milenial

 

Adam Malik*


Dalam literatur sejarah Islam, nabi dan sahabatnya menggagas sebuah misi penyelamatan. Intimidasi fisik dan mental adalah latar belakang mengapa nabi dan sahabat melakukan perjalanan berbulan-bulan melintasi gurun pasir dari Makkah menuju Madinah.

Mengapa "Hijrah" sebagai alternatif kala itu?, Kalau enak di kampung sendiri buat apa merantau?. Hijrah dalam ingatan sejarah ialah menghindari penderitaan, sakit, dan kesewenang-wenangan. Subjek dan objeknya ada penindas dan ada yang tertindas. Penindas itu seperior dalam konektivitas psikologis, sedangkan tertindas adalah derita bisa fisik bisa mental.

Hijrah merupakan kesadaran kolektif saat itu, Kelektivisme di dalamnya terdapat proses dan bukanlah prosesi yang instan. Jadi, kalau tak menderita buat apa hijrah?. Jika hijrah geneologinya merujuk hijrah ala Nabi.

Generasi Islam milenial mencoba mengadaptasi pola seperti ini. Hijrah menjadi kesadaran individual dan kesadaran kolektif bagi banyak orang. Alasan individual lantaran proses hijrah di mulai dari satu orang sampai banyak orang. Setiap Individu melakukan proses peniruan baik itu style berbusana, pola makan, bertutur dan bertindak sekalipun.

Hijrah berkelompok dengan model membuat ritual kekaderan, ada modul yang di ikuti bersama, persepsi tentang moral di samakan. Biasanya corak seperti ini benar-benar mampu membangun solidaritas kelompok. Satu jamaah yang sakit jamaah lain turut merasakannya.

Dalam sebuah wawancara dengan beberapa orang yang telah berhijrah. Alasan argumentatif yang bisa kita terima adalah kejenuhan berada dalam kebiasaan yang berulang-ulang, sehingga pola tersebut harus di ganti, terma "ingin menjadi lebih baik". 

Tren hijrah tidak lepas dari pengaruhi gejolak sosialogis dan psikologis, Tetapi hijrah begitu heroik lantaran di bumbuhi wacana keagamaan

Hijrah bisa jadi menjadi jalan hidup, dengan segala bentuk transformasi diri. Bisa pula hanya sekedar pelarian diri atas ketidakmampuan melawan tekanan sosiologis dan psikis dalam narasi hidup ini. Hidup itu keras tetapi benarkah hijrah adalah jawaban atas semua itu?.

"Hijrah yang berkesadaran" Kesadaran tanpa harus menonjolkan simbolisme yang kaku. Tak tarik ulur antara modernitas, tanpa harus di intervensi ortodoksi-ortodoksi keagamaan yang kaku. Hijrah nabi adalah proses, penuh derita. Di sertai kebajikan-kebajikan.


Adam Malik (Direktur Fides Channel)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here