Islamisme Vs Instanisme - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 21 Februari 2021

Islamisme Vs Instanisme

 

Ilustrasi by nukhatulistiwa.com

Pagi yang indah buat saudara (i), Tuan/Puan, Bapak/Ibu, Encang/Encing, Nya/Babe for all


Sembari menikmati sarapan mie instant atau lagi ngopi/engeteh/engejamu/ngerujak yang penting ngga ngejek yah, warga +62 sing rukun.

Kehadiran KFC atau Micdonald bukan hanya memberikan inspirasi bagi makanan cepat saji dengan nyala kompor di atas 100°C. Bermodal nyala api bahan yang lugu keluar bak hero. Walau menawarkan kerenyahan, kriuk-kriuk dan kegurihan seolah-olah fresh. Tetapi, itu sekedar ilusi sebab nyala api yang di atas 100°C telah menguapkan kandungan gizi.


Begitulah kini fenomena keislaman hanya mondok di pojokan sekolah memanfaatkan limit waktu yang terbatas. Telah mencetak Islam rasa instant yang mengubah makna "Hijrah" demikian sempit.  Hingga peralatan dan costum "Hijrah" dapat di beli pada mall ternama dengan design elegan dan modis. Sungguh "Hijrah" produk mesin kapital, betapa jauh dari makna "Hijrah" yang diteladankan Nabi Saw. 


Hijrah yang berkekuatan kemandirian, mungkinkah kini Hijrah berarti menjadi "Konsumen tetap produk kapital". 


Sisi lain dari kehadiran fenomena Hijrah, membawa rasa paranoid dan sentimental terhadap hal-hal di luar lingkaran oven grai Islam yang dipasarkan "ustadz dan ustadzah" versi gerai Islam mereka. Yang mencangkokkan Islam ke dalam paham mereka, lalu mencampakkan paham di luar kelompoknya.


Kondisi ini seakan berbalik dengan berbagai seruan tokoh-tokoh intelektual Islam. Yang menganjurkan umat Islam mendalami ajaran-ajaran Islam dengan proses yang mendalam. Tentu proses itu membutuhkan waktu yang lama, namun akan membuat umat Islam memahami aspek-aspek keislaman secara komprehensif dan substantif. Yang akan memberikan satu pemahaman bahwa proses Islam berislam butuh waktu. Segaligus menjauhkan dari dagelan-dagelan kedangkalan yang kadang di pertontonkan secara terbuka oleh kalangan Islam "Instanisme" yang agak sulit membedakan ini entertain atau epistemik Islam.


Islam yang oleh kalangan "Instanisme" begitu berisik bak penjual di Tanah Abang saja. Kadang Tuhan sekalipun mereka ikutkan di lapak-lapak jualan, entah sebagai penglaris atau jadi etitut.  


Keinstanan dalam memaknai Islam telah membawa dampak kedangkalan dalam memahami ajaran Islam. Segaligus telah berkontribusi menjadikan Islam sekedar simbol yang ditempelkan di Hp, motor, mobil dan busana yang dikenakan. Bila dulu ada ungkapan "Tuhan teramat dekat di urat nadi", bagi kalangan "Instanisme", "Tuhan pun begitu dekat dengan barang-barang mereka". 


Ajaran Islam yang terbuka menjalin dialog telah dirubah semacam molonog para "ustadz dan ustadzah" yang tak boleh disanggah atau dipertanyakan. Sebab, itulah kebenaran. Kebaikan dan keberislaman telah menyerupai para pedagang di Tanah Abang, penuh dengan kalkulasi "Surga dan Neraka".


Islam yang penuh dinamika pemahaman yang begitu dinamis, yang oleh kalangan Islam "Instanisme" telah disulap menjadi begitu monoton


Islam yang membawa rahma telah dirumitkan dengan hal-hal dangkal. Seolah berislam kini ibarat memesan makanan di aplikasi, yang membuat Islam menjadi menyesuaikan dengan selera konsumen yang memesan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here