Islam Indonesia Sudah Tak "Seksi" Lagi - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 28 Februari 2021

Islam Indonesia Sudah Tak "Seksi" Lagi

 

Ilustrasi by Islam ramah.co

Seorang Indonesianis Prof Dr Claudine Salmon, dia adalah seorang peneliti dari Prancis dalam bidang studi Geografi Budaya yang menjadikan Indonesia sebagi objek penelitiannya. Dengan sinis ia mengemukakan" kala itu, sekitar empat atau tiga dekade lalu, Indonesia masih cukup menarik dan seksi bagi peneliti Prancis untuk meneliti dan mengespos keunikan budaya dan keberagamaan di Indonesia.


Mengutip pada wawancara edisi khusus Majalah Tempo, Kata Direktur Centre Asie De Sud Est (CASE) atau Pusat Studi di Asia tenggara yang berada di Prancis, keberadaa-nya seperti keberadaan lembaga LIPI di Indonesia, dibidang diskursus geografi budaya; Pada tahun 2000-2003 peneliti Prancis yang meneliti tetang budaya Indonesia peminatnya masih tersisah sekitar lima orang, setelahnya nol persen peminat. Ini mengambarkan drastisnya penurunan studi di Indonesia.


Peneliti Prancis mengangap telah terjadi silang budaya di indonesia. Dulu Islam di Indonesia di anggap Khas, dengan ciri khusus yang berbeda dengan Islam yang hidup Timur Tengah, kini karena menguatnya Islam ala Arab. Islam indonesia dianggap biasa sebagimana di dunia Islam pada umunya. Islam Indonesia ditandai semacam arabisasi, perubahan yang nampak sekali telihat pada segi penampilan dari sarung dan batik di ubah menjadi gamis dan jubah, dari kidung terasosiasi jadi cadar. padahal di era 1970-an sisa Islam khas pribumi Indonesia masih nampak elok dan menawan bersama tradisi dan budayanya.


Pasca runtunya rezim otoriter Suharto 1998 terjadi reformasi sistem pemerintahan dan dikuti juga dengan reformasi Islam dari Islam konservatif yang lekat akan nilai eksotisme menujuh islam fundamentalis yang lekat akan aksi terorisme. Di 1998 Indonesia memulai demokrasi baru, beberapa partai politik mulai di dirikan dan mengikut pula berdirinya beberapa Oraganisasi Masyarakat (Ormas).


Ormas-ormas Islam seperti FPI mulai di dirikan awal reformasi. Karena keterbukaan demokrasi wajah keislaman pun mulai memiliki warna yang beragam. Memasuki tahun 2000-an wajah Islam radikal mulai banyak bermunculan dengan terjadinya Bom Bursa Efek Jakarta tahun 2000, diikuti dengan empat serangan besar lainnya, dan yang paling mematikan adalah Bom Bali 2002.


Ambruknya rezim orde baru dan terjadinya peristiwa bom bali, menjadikan klausa efek terhadap turunnya minat tentang studi Indonesia di beberapa negara. Di Universitas Monash Australia memiliki program jurusan studi Indonesia, sebagaimana ungkapan mantan dosen Universitas Monash Barbara Hatley, mengemukakan bahwa penurunan minat terhadap studi indonesia berlangsung sejak tahun 2000.


Peristiwa bom bali, tak hanya mematikan orang-orang bali namun, ledakkan bom bali juga mematikan jurusan studi Indonesia di berapa kampus di Australia. Setelah peristiwa bom bali pemerinta Australia memberikan peringatan untuk menghentikan aktifitas para mahasiswa dalam rangka studi tur dan penelitian di Indonesia. Sebab, Indonesia menjadi negara yang tak aman dan Islam di Indonesia sudak tak seksi dan tak menarik lagi untuk di kaji secara mendalam.


Padahal, keunikan Islam Indonesia terletak pada terpadunya ajaran keislaman dan tradisi dikebudayaan Indonesia itu sendiri. Seperti ungkapan cendikawan muslim Indonesia, Azyumardi Azra; Di minang, Islam Nusantra itu adalah "adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah". Adat adalah lokal jenius. Islam datang melalui penerjemahan konsep/ajaran kedalam bahasa lokal dan pribumisasi.


Nilai-nilai yang dianut dalam sebuah tradisi pada masyarakat tertentu misalnya nilai sirri na pacce (harga diri dan rasa malu) di Makassar adalah suatu kekayaan leluhur yang hingga hari ini masih diyakini masyarakat Bugis-Makassar Sulawesi-Selatan.


Harga diri dan rasa malu memiliki relevansi dengan konsep keimanan, orang Bugis-Makassar mengangap hargga diri adalah nilai universal kemanusiaan, apabilah hargga diri-nya terzolimi oleh ketidakadilan maka, ia akan meneggakan siri' nya. Orang Bugis dan Makassar menyakini, mati terbunuh menegakan siri', matinya adalah mati syahid, atau yang mereka sebut sebagai (Mate Risantangi atau mate Rigollai). Dan, itulah sejatinya kesatria, seperti membunuh para penjajah belanda.


Bukan hanya di Makassar saja, masih begitu banyak tradisi yang diagungkan oleh setiap suku di Indonesia dan menjadi sebuah kebanggaan dan pemersatu antar suku bangsa.


Demikian Ormas besar Islam Indonesia Nahdatul Ulama (NU), memcoba mengembalikan nilai orizinalitas keislaman Indonesia dengan selogganya" Islam Nusantara" yang merupakan metode (manhas) dakwa Islam di bumi Nusantara di tengan penduduk yang multi etnis, multi budaya dan multi agama yang dilakukan secara santun dan damai.


Kehadiran Islam fundamentalis telah menampakan wajah Islam Indonesia menjadi horor seperti kolor ijo kerjanya, hanya mencari para gadis perawan. Yah, sudah persis para terorisme yang menyakini dengan membunuh seseorang, ia akan diganjarkan dengan 72 bidadari. Tentu saja teologi para terorisme dibangun atas dasar hasrat seksualitas. Dan Puji Tuhan akhirnya, Pemerintah indonesia Jokowi telah mengelurkan kebijakan pembubaran dan pembatasan gerak langka para kolor ijo.


Muh. Arafat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here