Bencana - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 05 Februari 2021

Bencana

 

Idham Malik*

Januari adalah bulan bencana, entah februari. Tapi, getaran 3 Februari di Mamuju, menunjukkan bahwa proses pergeseran bumi masih berlangsung. Pada sore ini saya tidak ingin membahas bencana bumi yang menghantui kita. Tapi pada bencana lain, melalui getar, yang kita alami semua namun kita barangkali tak menyadarinya.


Bencana pertama adalah ketika orang tua kita saling merobek di suatu hari, di tempat yang hanya dikenang oleh mereka berdua. Peristiwa getar itu, genom orang tua kita bertemu, dan kita dititip di rahim Ibu. Pun tumbuhnya kita di rahim, menimbulkan efek samping yang berbeda pada masing-masing Ibu, ada yang mual, muntah, pusing, dan ada yang biasa-biasa saja, bahkan tidak tahu bahwa ia sedang hamil. 


Perut membuncit, terdapat urat yang tertarik, bentuk aneh ini juga menyulitkan sang Ibu untuk bergerak, bernafas, bahkan tidur. Hingga pada saat kita lahir, kita lagi-lagi merobek sesuatu. Peristiwa dahsyat kehidupan yang diawali dengan tangisan ini justru adalah bencana pada sisi yang lain. Pada kasus ini, ada ibu yang disesar dan ada ibu yang dijahit kemaluannya. 


Lalu kita menjadi bayi, bermata kabur, pendengaran samar, badan rapuh, tapi dari kelemahan itu memberi kekuatan yang besar bagi kedua orang tua dan orang-orang sekitar kita. Mereka bersedia untuk meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan segala-galanya demi tumbuh kembang kita. Menjaga kita dari segala bencana yang mengintai. Meski, dalam perjalanan kita, yang tertatih-tatih, mulai dari tengkurap, merayap, merangkak, melangkah, meniru-niru suara, hingga belajar menanggapi sapaan dan berkomentar itu, kita sesekali jatuh, terbentur, luka, dan tentu sakit. 


Kemudian, kita menjadi anak-anak yang tangkas, kita berhadapan lagi dengan orang banyak, terlalu banyak kepentingan yang harus kita akomodir, membuat kita harus belajar menyesuaikan diri, dan ini tentu menimbulkan sakit bertubi-tubi

  

ketika kita remaja, ada yang tumbuh dari diri kita, sesuatu yang awalnya tidak kita kenali. Kita tiba-tiba tertarik dengan lawan jenis, kita mulai merias diri, tubuh kita mulai terbentuk sesuai dengan perkembangan hormonal seksual kita. Pada periode ini kita mengharapkan pengakuan sosial. Dengan begitu kita mengalami pasang surut antara bahagia dan sedih. Justru, ketika kita berhasil melewati periode ini, ombak godaan, antara terjerumus dan berhasil keluar dari jebakan, kita pun menjadi manusia dewasa. 


Tapi, ternyata menjadi orang dewasa tidak berarti dapat bersenang-senang. Pada periode ini, kita dituntut untuk mencari makan sendiri, dan juga menghidupi keluarga kecil kita, atau saling menghidupi. Lagi-lagi, dalam perjalanannya, kita dihantam oleh krisis, baik eksistensi, rohani, hingga yang bersifat material. Pada tahap ini, respon kita berbeda-beda, ada yang dapat menerimanya apa adanya seraya melakukan perbaikan-perbaikan, ada juga yang berjuang dengan segala cara untuk merebut kehidupan, mempertahankan kehidupan dalam artian kekayaan dan kekuasaan, tentu dengan mengorbankan segalanya, baik lingkungan maupun orang lain. 


Nah, di sini mungkin bencana dapat bermakna lain. Bencana ketika kita merusak kehidupan, demi memuaskan nafsu pribadi, adalah bencana yang melahirkan bencana. Corona, banjir, gedung runtuh, kelaparan, pemiskinan akibat korupsi, tindak kriminal/kekerasan, adalah bencana tipikal seperti ini. Tapi, apa lacur, kita hidup di antara nafsu-nafsu, godaan-godaan yang tiada henti, dan tuntutan-tuntutan hidup yang menunjukkan kelas sosial dan standar sosial kita. Kita terus berpegang pada ranting itu, sangat takut untuk melepaskannya, padahal, kita pun kadang-kadang berfikir, bahwa semua ini ada yang atur. Kenapa kita lahir? Untuk apa kita hidup? Bagaimana kita hidup?


Hingga suatu saat nanti, kita berhenti, dan tidur. Pada tidurnya kita itu, adalah akhir dari kehidupan di dunia yang fana ini. Mungkin berhenti di situ, atau melanjutkan lagi pada perjalanan panjang di dunia lain. Entahlah. Tapi, bencana kematian kita itu, bisa saja menjadi pembuka atau memberi nafas/energi bagi mahluk lain, dimana kita menyatu bersama alam dan tergabung dalam siklus energi bumi. 


Pada akhirnya, kita hanya menunggu akhir, yang mungkin masih pendek atau panjang ini, melewati pasang surut bencana, entah gempa bumi, kelaparan, perang, virus-virus baru, hingga semua manusia di bumi menjadi punah. Pada titik itu, kehidupan baru barangkali muncul, menggantikan manusia, atau jika manusia masih hidup, mungkin saja manusia ini kembali menjadi manusia jaman dulu kala, hidup sederhana, hingga pada suatu waktu tertentu gerhana kembali menutup cahaya kesadaran manusia, demi nafsu akan kemegahan, keindahan, dan kebesaran.


Idham Malik (Pegiat Literasi & Aktivis Lingkungan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here