Persamaan Dalam Islam - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 12 Januari 2021

Persamaan Dalam Islam

 

Iustrasi by Corretto.id

A.     Pendahuluan

Peristiwa World Trade Center (WTC) pada 11 September menandai fase baru hubungan antara Barat dan Islam. Persepsi Barat tentang Islam ibarat mengulang sejarah masa silam yang mempertemukan Barat Kristen dengan Islam dalam Perang Salib.[1] Terlebih setelah Presiden Amerika Serikat Goerge W. Bush menyatan perang terhadap terorisme yang dianggap sebagai dalang dari peristiwa WTC.

Respon publik internasional mengutuk peristiwa WTC segaligus pergerakan Amerika Serikat beserta sekutunya mengejar Osama bin Laden dan kelompok-kelompok teroris yang mengganggu keamanan dunia. Merebaknya Islamphobia yang menyebabkan ummat Islam tertuduh sebagai pelaku teror (pengeboman), tidak toleran terhadap berbagai perbedaan (utamanya toleransi terhadap perbedaan agama) dan tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan (utamanya perhormatan terhadap hak-hak perempuan).

Tuduhan miring terhadap Islam semakin merebak ketika penulis-penulis Barat menggambarkan Islam lewat rajam (hukum cambuk) yang dinilai tidak manusiawi, pembagian dalam hukum waris yang dinilai merugikan kaum perempuan. Sisi lain, Barat menilai Islam membatasi peran-peran perempuan dalam ruang publik dan isu poligami yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dianggap diluar batas wajar serta merugikan kaum perempuan.

Islam oleh Barat digambarkan sedemikian rupa bahkan lewat film-film dengan menjadikan Islam sebagai objek dan seorang pelukis Barat menggambarkan wajah Nabi Muhammad Saw. Penggambaran Barat terhadap Islam lewat berbagai media mendapat respon keras dari ummat Islam, yang dinilai jauh dari kondisi objektif malah terkesan mendeskreditkan dan hanya menyebar kebencian.

Sikap reaktif yang ditunjukkan sebagian ummat Islam terhadap tuduhan-tuduhan Barat baik lewat tulisan maupun film dan karya seni. Semestinya ummat Islam merespon dengan melakukan hal yang sama, bukankah dalam peristiwa Perang Salib Barat banyak mengambil pelajaran berharga terkait kemajuan ummat Islam. Mengapa ummat Islam tidak melakukan hal yang sama ?

Kalau ummat Islam dituduh sebagai agama yang tidak care terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan hak-hak kaum perempuan serta Islam dianggap tidak demokratis. Upaya yang perlu dilakukan bukan hanya sekedar reaktif dengan membentangkan spanduk di jalan, tetapi menjawab dengan cara-cara yang berkebudayaan (lewat tulisan dan film serta media yang lain yang berkualitas).

Buku Teologi Pembebasan Dalam Islam yang ditulis oleh Dr. Muhaemin Latief, M. Th.I, M. Ed menggambarkan mengenai Islam yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan sebagai berikut:

“Islam sudah terang-terangan melakukan pembebasan dari tradisi yang membuat masyarakat Arab terbelenggu. Selain itu, menurut Engineer, Nabi Muhammad Saw. juga membawa panji-panji kebersamaan, egalitarianisme, tidak ada perbedaan kelas antar satu suku dengan suku lainnya. Misi ini juga menjadi sindiran kepada masyarakat Arab pada waktu itu dimana hegemoni dan egoisme kesukuan sangat mengakar dalam kehidupan mereka. Engineer mengatakan bahwa misi Nabi pada waktu itu sangat revolusioner yang tidak hanya membebaskan masyarakat Arab secara khusus tetapi ummat manusia secara umum. Jauh sebelum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencanangkannya dalam piagam deklarasi hak azasi manusia (Declaration Human Rights), Islam sudah mengampanyekannya lewat pesannya dalam al-Qur’an. Misalnya Nabi mengangkat seorang budak Negro, Bilal, menjadi muazzin yang tentu saja menjadi kehormatan besar bagi seorang Bilal”[2]

Nabi Muhammad Saw. membawa perubahan yang demikian besar utamanya terkait penghormatan kepada nilai-nilai kemanusiaan dan menghargai hak-hak kaum perempuan. Lalu, pertanyaannya mengapa ummat Islam digambarkan tidak bersesuaian dengan nilai-nilai kemanusiaan ? Fakta menunjukkan pelaku-pelaku terorisme adalah ummat Islam, yang tentunya jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan misi yang telah dipraktekkan oleh Nabi.

Kalau Nabi Muhammad Saw. begitu menghargai nilai-nilai kemanusiaan, lalu mengapa ummat Islam seolah berbuat dan bersikap yang justru terkesan jauh dari kata menghargai nilai-nilai kemanusiaan ? Apalagi dengan maraknya aksi-aksi teror yang justru mengatasnamakan agama dan semangat jihad sembari berteriak “Allahu Akbar” dengan menjadi penindas kepada mahluk Tuhan yang lain.

Amin Rais dalam kata pengantar buku Islam dan Pembaharuan menggambarkan terkait persoalan yang dihadapi dalam dunia Islam sebagai berikut:

“Periode sekitar dua abad setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw. pada hakekatnya merupakan periode formatif di mana ajaran-ajaran Islam kristalisasi dan bentuk yang komprehensif dan universal. Kita juga perlu mencatat bahwa periode formatif pasca Nabi bukanlah suatu periode sejarah yang tanpa konflik dan perjuangan diantara kelompok-kelompok dalam tubuh kaum Muslimin sendiri; justru pada periode inilah telah muncul konflik tajam antara berbagai aliran dalam masyarakat Islam pada waktu itu mengenai masalah-masalah ideologi, politik, sosial, moral dan spiritual. Ortodoksi Islam yang kemudian melembaga dan mengkristal sekitar dua abad setelah kepergian Nabi Muhammad Saw. adalah hasil pertarungan bermacam-macam gagasan dan pemikiran di kalangan ummat Islam. Pertentangan antara ortodoksi dan sufisme berlangsung cukup lama. Terutama abad sepuluh, sufisme memperoleh dukungan dari cendekiawan di masa itu. Harus diakui bahwa usaha sintesa yang diusahakan Ghazali memang cukup berhasil walaupun bukannya tanpa kelemahan. Salah satu kelemahan penting yang mudah diamati adalah bahwa kebanyakan karya Ghazali tidak berisi etos sosial sehingga individu menjadi pusat perhatian yang berlebihan, dan karena itu banyak diantara pengikutnya yang lari dari pergumulan dunia konkrit, menyisih dari arena pergulatan soaial, politik dan budaya masyarakatnya. Pemikiran dan gerakan pembaharuan Islam juga muncul di Libya dalam bentuk gerakan Sanusiah. Tujuan organisasi yang dibentuknya adalah untuk menggerakkan pembaharuan-pembaharuan sosial, moral dan ekonomi. Kebiasaan sufisme yang jatuh pada mistisme dan pemujaan pada orang-orang suci diberantas oleh gerakan Sanusiah di Libya. Gerakan pembaharuan ini mengusahakan terciptanya solidaritas Islam (al-Tadlomun al-Islam) yang didasarkan atas egalitarianisme (musawah) dan keadilan (‘a dalah).”[3]

Ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw. yang pro-terhadap nilai-nilai kemanusian dan bersifat progresif. Pasca Nabi memasuki fase formatif yang mengalami proses pelembagaan dalam bentuk aturan-aturan hukum dan doktrin-doktrin teologi yang membuat langkah-langkah progresif dan substansi Islam menjadi terkebiri. Kondisi tersebut membuat ajaran-ajaran Islam terjebak dalam kubangan ortodoksi, bahkan Islam telah berubah menjadi alat yang memberikan justifikasi terhadap pembungkaman nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Bagi para pemikir Islam yang melihat dan menangkap substansi ajaran Islam sebagaimana yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad Saw. menganjurkan kepada ummat Islam untuk membaca tradisi Islam (al-Qur’an dan hadis) berdasar pada konteks Nabi dan kontekstualisasi spiritnya pada kehidupan kekinian ummat Islam. Upaya tersebut dianjurkan oleh para pemikir Islam kontemporer guna memahami dan menjauhkan Islam dari kesalahan menangkap isi pesan dari teks. Nasr Hamid Abu Zaid salah satu pemikir kontemporer yang menganjurkan memahami teks-teks suci dengan melihat konteks Nabi kala menerima wahyu guna menjauhkan ummat Islam dari kesalahan menangkap isi pesan dari teks. Menurut, Nasr melihat konteks teks kala diturunkan menjadi salah satu langkah guna memahami pesannya, kata iqra yang diartikan “baca”.[4] Tetapi, Nabi Muhammad Saw. merespon dan keenggangan Nabi membaca oleh ummat Islam dikemudian hari dimaknai bahwa Nabi tidak dapat membaca. Menurut, Nasr seolah Jibril tidak mengetahui kondisi Nabi, bukankah Jibril diutus oleh Sang Yang Maha Tahu. Sesuatu yang terkesan mengganjal bila Jibril diutus untuk membawa pesan atau perintah membaca sedangkan orang yang menjadi tujuan dari pesan tersebut adalah orang yang tidak bisa membaca. Nasr, mengatakan kesalahpahaman terkait Nabi yang diminta oleh Jibril untuk membaca didasarkan pada pemahaman bahwa iqra (membaca) tidak lain yakni membaca buku atau kitab. Padahal konteks Nabi menerima perintah iqra sejatinya Nabi diminta mengikuti apa yang diucapkan Jibril, tetapi kondisi Nabi secara psikologi yang baru menerima wahyu membuatnya berada dalam kondisi demikian dan setelah peristiwa tersebut Nabi pulang kemudian meminta Khadijah menyelimutinya.

Pemikir Islam kontemporer telah mengupayakan pembacaan terhadap tradisi (al-Qur’an dan hadis) yang lebih mendekatkan kepada konteksnya. Mengingat dalam perjalanan sejarah Islam telah mengalami berbagai fase dan tidak dapat dipungkiri ajaran Islam telah mengalami fase sakralisasi. Sehingga langkah-langkah progresif terkesan mencederai dan menodai Islam, bukankah Nabi membawa ajaran Islam begitu dialektis dan dinamis merespon kondisi sekitarnya.

Untuk itu, dalam makalah ini penulis akan membahas salah satu topik yang banyak menyita perhatian terlebih lagi ketika banyak peristiwa-peristiwa teroris dan tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama (Islam). Persamaan dalam Islam yang memiliki korelasi dengan nilai-nilai kemanusiaan, penghormatan terhadap hak-hak prempuan, persaudaraan (egalitarianisme), persamaan (equality) dan keadilan sosial (social justice). Oleh, karena itu dalam makalah ini akan dibahas dalam kerangka teologis dan sosial.

B.     Kerangka Teologis

1.      Persamaan Manusia Di Hadapan Tuhan Segaligus Sebagai Khalifah

Islam adalah agama universal, komprehensif dan totalitas.[5] Terkait persoalan tujuan penciptaan manusia oleh Tuhan sebagaimana dalam Surah al-Baqarah ayat 30 yang menyebutkan tujuan dibalik penciptaan manusia yaitu sebagai khalifah. Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa ketika Tuhan berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Penjelasan dalam Tafsir Jalalain terkait khalifah memiliki makna yang akan mewakili Tuhan dalam melaksanakan hukum-hukum dan peraturan-peraturannya.[6]

Kata khalifah memiliki banyak makna seperti pemimpin, wakil, pengatur dan penjaga. Bila dipahami lebih jauh peran yang dimainkan manusia di atas muka bumi demikian besarnya. Tanggung jawab manusia dalam mengolah dan merawat bumi, telah dibekali oleh Tuhan potensi yang besar dalam mengemban amanah tersebut.

Manusia diciptakan oleh Tuhan dari sumber yang sama tanpa membedakan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Surah at-Tin ayat 4-6 menjabarkan proses penciptaan manusia dalam sebaik-baik bentuk (sempurna). Makna penciptaan tersebut, bahwa proses pertemuan antara sperma dan ovum dalam rahim membuahkan janin. Ketika memasuki fase peniupan ruh oleh Tuhan, janin dalam rahim ditanya oleh Tuhan, apakah Aku adalah Tuhan-Mu ? Maka dijawab “Qālū balā syahid’nā[7] benar aku bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan-ku. Namun, ketika manusia terlahir di muka bumi banyak yang telah lupa dengan janji dan sumpah yang telah diucapkan di depan Tuhan. Manusia-manusia yang telah melupakan janji dan sumpahnya akan mengalami asfala safilīn[8], akan dikembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).

Potensi yang diberikan oleh Tuhan berupa fitrah (agama/budi/ilmu) sebagai bekal mengolah dan merawat bumi. Al-Qur’an tidak menafikkan manusia-manusia yang tetap menjaga komitmen, dalam bahasa al-Qur’an mereka-mereka yang beriman dan berbuat kebajikan. Senantiasa menghargai sesama ciptaan Tuhan dengan tidak berbuat yang dapat merugikan mahluk yang lain.

Kata manusia dalam al-Qur’an dapat ditemui dalam beberapa kata seperti al-Insan, al-Basyar, an-Nas dan Dzurriyat/Bani Adam. Kata-kata tersebut memiliki arti manusia, tetapi memiliki dimensi yang berbeda. Kata al-Insan memiliki dimensi sifat dan karakter manusia, pencapaian tertinggi seorang manusia ketika telah mencapai derajat insan kamil (manusia yang telah mencapai tingkat paripurna/sempurna).

Penciptaan manusia oleh Tuhan secara spiritual bersumber dari ruh yang ditiupkan saat dalam rahim. Manusia dianugrahkan potensi yang sama antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan manusia ada yang mencapai derajat yang tinggi, hal itu tidak terlepas dari upaya dan usaha yang dilakukan secara individu.

Islam sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan menghormati kehidupan. Ada perintah menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga agama dan menjaga harta. Bila disimak perintah tersebut, maka pesannya sangat jelas betapa ajaran Islam menghargai dan memuliakan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam fiqih diatur bila seseorang menghilangkan nyawa pelakunya mesti membayar denda kepada keluarga korban. Spiritnya sangat jelas supaya seseorang berpikir dalam menghilangkan nyawa dan Islam memuliakan nilai-nilai kehidupan. Kisah Nabi Sulaiman yang meminta prajuritnya berjalan pelan, supaya semut-semut tidak terinjak oleh pasukannya. Bukankah ini pesan yang teramat jelas bahwa Islam menghargai mahluk ciptaan Tuhan (bukan hanya menghargai manusia).

Al-Basyar yang memiliki dimensi fisik/biologis, manusia terlahir dari pertemuan sperma dan ovum. Semua manusia yang terlahir di muka bumi pasti melewati fase tersebut, walaupun ada istilah bayi tabung. Namun, tanpa sperma dan ovum hal tersebut juga tidak dapat dilakukan. Manusia secara warna kulit terdiri dari putih, hitam dan sawo matang. Menurut ilmuwan Muslim, bahwa salah satu faktor adanya perbedaan warna kulit, bahasa dan kebudayaan disebabkan arah mata angin, iklim dan kondisi lingkungan. Sehingga perbedaan warna kulit bukanlah menjadi alat legitimasi bahwa manusia superior dan manusia yang lain menjadi inverior. Sebab, semua manusia baik yang berwarna kulit putih maupun yang berwarna kulit hitam memiliki kemampuan beradaptasi dan membangun peradaban.

Dzurriyat/ Bani Adam yang memiliki dimensi bahwa manusia adalah anak keturunan Adam. Tradisi agama Ibrahim Yahudi, Nasrani dan Islam menempatkan Adam sebagai bapak ummat manusia. Tentu pandangan tradisi agama berseberangan dengan asumsi yang dibangun kaum Naturalis utamanya Carles Darwin. Lewat teori seleksi alam menggambarkan proses evolusi yang dialami oleh mahluk hidup termasuk manusia. Penemuan-penemuan ilmuwan terkait fosil-fosil kerangka manusia purba, seolah menunjukkan dan membenarkan teori seleksi alam yang diyakini kebenarannya oleh kalangan ilmuwan.

Temuan fosil kerangka manusia purba bila dibandingkan dengan DNA manusia modern tidak bersesuaian. Apalagi DNA manusia dengan kera dan simpanse memiliki perbedaan, dari segi DNA/RNA menunjukkan kromosom yang tidak identik dan seolah bahwa asumsi yang menyatakan simpanse/kera yang mengalami evolusi menjadi manusia tidak memiliki dasar. Hanya menjadi hipotesis dikalangan ilmuwan naturalis.

Pandangan agama-agama Ibrahim mengenai Adam sebagai bapak ummat manusia telah menjadi keyakinan dan telah diterima menjadi kebenaran yang tak tergoyahkan, diluar dari keyakinan para ilmuwan naturalis yang memiliki keyakinan yang lain. Sehingga keyakinan keagamaan bahwa manusia adalah anak keturunan Adam yang telah mengalami perkembangbiakan dengan mendiami berbagai belahan bumi yang telah membentuk suku-suku dan ras.

2.      Dimensi Ketakwaan Berorientasi Kepada Nilai Kemanusiaan

Tuhan dalam ajaran Islam tidak memperlakukan manusia berbeda-beda antar satu dengan yang lainnya. Rahmat Tuhan bukan hanya tertuju kepada yang meyakini dan menyembahnya, bahkan yang tidak meyakini dan menyembahnya bisa saja lebih maju. Kondisi tersebut digambarkan dalam firmannya bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau bukan kaum itu sendiri yang merubahnya.

Iktiyar manusia menjadi kunci pencapaian yang diraih selama menjalani kehidupan. Tuhan tidak pernah memveto usaha yang gigih yang dilakukan oleh manusia. sebab, telah menjadi ketentuan Tuhan bahwa barang siapa yang berusaha dengan sekuat tenaga, pasti akan mendapatkan hasil sesuai dengan usaha yang dilakukannya. Tuhan berlaku adil kepada manusia dengan menganugrahkan potensi yang sama dan alat indra guna menunjang dalam menjalani kehidupannya.

Ajaran Islam senantiasa hadir memberikan tuntunan kepada penganutnya guna berbuat kebaikan/kebajikan. Perbuatan baik yang dilakukan manusia bukan hanya kepada sesama keyakinan, sebab berbuat baik ditujukan kepada siapapun tanpa memandang latar keyakinan, suku dan kebangsaannya.

Nabi Muhammad Saw. telah menjadi suritauladan (uswatun khasanah)[9] bagi segenap ummat manusia. Semasa hidupnya Nabi memiliki kebiasaan menyuapi seorang Yahudi tua yang telah buta, walaupun Yahudi Tua tersebut senantiasa mengolok-ngolok Nabi. Sepeninggal Nabi kebiasaan menyuapi Yahudi tua dilanjutkan oleh Abu Bakar, tetapi Yahudi tua tersebut merasakan perbedaan dalam cara menyuapinya selama ini. lalu, Yahudi tua tersebut, bertanya “apakah kamu orang yang sama telah menyuapi saya selama ini ?”, Abu Bakar menceritakan bahwa orang telah menyuapinya selama ini, telah meninggal. Lebih lanjut lagi, Abu Bakar menyatakan orang yang menyuapinya selama ini, tidak lain adalah Nabi Muhammad Saw. orang yang selama ini dicaci-maki oleh Yahudi Tua tersebut.

Kisah Ali bin Abu Thalib ketika berjalan menuju mesjid, tetapi di tengah perjalanan terdapat seorang tua yang juga berjalan di depannya. Walaupun Ali bin Abu Thalib ingin shalat Subuh berjamaah dengan Nabi, tetapi sikap hormatnya kepada orang tua yang membuatnya enggan mendahului orang tua tersebut.

Pernyataan Nabi Muhammad Saw. yang menyatakan bahwa kalau Fatimah binti Muhammad berbuat salah, maka yang akan menghukumnya tak lain adalah Nabi sendiri. Seolah Nabi ingin berpesan bahwa semua orang sama dihadapan ajaran Islam, tidak ada perbedaan dan perlakuan khusus.

Surah al-Hujurat ayat 13 memberikan gambaran bahwa Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan (laki-laki dan prempuan), bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk lita’aarafu (saling mengenal). Penjelasan lafal ta’aarafuu berasal dari tata’aarafuu, kemudian salah satu dari ke-dua huruf ta di buang menjadi ta’aarafuu.[10] Supaya kalian saling mengenal dan tidak saling membanggakan nasab/keturunan. Akhir Surah al-Hujurat ayat 13 yang membedakan manusia yang satu dengan yang lain yakni ketakwaan.

Kebaikan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. memiliki dimensi spiritual dan dimensi sosial. Yang menjadikan Islam bukan hanya memiliki dimensi hablu minallah, tetapi dimensi sosial menjadi bagian yang sama pentingnya bagi Islam.

Dimensi sosial atau muamalah dalam Islam memberikan ruang yang besar kepada ummat Islam untuk mengatur kehidupan sosialnya. Untuk urusan muamalah Islam tidak mengatur secara rinci sebagaimana urusan ibadah. Seorang Muslim memiliki kebebasan dalam bertransaksi jual-beli dengan non-Muslim. Konteks kehidupan bermasyarakat ummat Islam terbuka kepada non-Muslim, bahkan seorang non-Muslim yang dzimmi memiliki persamaan, hak yang sama sesama warga dalam bingkai negara Islam dan ruang publik tidak menutup akses terhadap mereka yang berbeda.[11] Pada masa Daulah Abbasiyah tokoh ilmuwan non-Muslim yang bernama Hunain ibn Ishak menjadi bagian dari Bait al-Hikmah.[12] Membuktikan bahwa dalam Islam ruang-ruang publik terbuka untuk semua.

Perilaku orang-orang yang bertakwa yang ditunjukkan dalam Islam berarti orang yang senantiasa menghargai persamaan antar manusia, bersikap toleran terhadap perbedaan dan menghargai kaum prempuan. Nabi menganjurkan dalam keadaan apapun seorang Muslim harus tetap menghargai nilai-nilai kemanusiaan, membela harkat-martabat kaum prempuan dan tidak menebang pohon secara sembarangan tanpa pemanfaatan yang jelas.

3.      Penghormatan Islam Kepada Perempuan

Khadijah adalah perempuan yang memiliki peran yang sangat besar dalam mendukung dakwah Nabi Muhammad Saw. Setelah menerima wahyu dari Jibril bersama Khadijah Nabi menuju Waraqah ibnu Naufal (sepupu Khadijah) untuk menguatkan jiwa Nabi.[13]

Peran Khadijah dalam mendukung dakwah Nabi bukan hanya berkorban secara moral, melainkan Khadijah merelakan harta demi perjuangan Nabi. Catatan sejarah mencatat Nabi setia bersama Khadijah hingga akhir hayat, Nabi baru berpoligami sepeninggalan Khadijah.

Al-Qur’an yang menjadi pedoman ummat Islam memberikan penghormatan yang besar terhadap perempuan dengan menamai beberapa nama surahnya dengan nama perempuan atau yang berkaitan dengan perempuan. Mulai dari Surah an-Nisa (perempuan), Surah Maryam (Ibu Nabi Isa), Surah al-Mujadalah (perempuan yang mengajukan gugatan), Surah al-Mumtahanah (perempuan yang diuji) hingga al-Baqarah (sapi betina) walau berarti sapi betina, tetapi memiliki kedekatan dengan nilai-nilai feminis.[14] Terlepas dari nama-nama surah dalam al-Qur’an yang dinamai dengan nama perempuan atau yang memiliki sisi feminis, di luar dari itu pembahasan terkait perempuan bisa didapatkan di surah-surah yang tidak dinamai dengan nama perempuan.

Al-Qur’an menjadi kitab suci yang begitu care terhadap perempuan, bukan hanya sekedar menamai surah-surahnya dengan nama perempuan. Tetapi, lebih jauh al-Qur’an membela harkat-martabat kaum perempuan dengan mengapresiasi kualitas dan perjuangan kaum perempuan. Salah satu nama perempuan berpengaruh dalam perjalanan sejarah manusia yang mampu meraih posisi sebagai pemimpin negara yakni Ratu Balqis dari negeri Saba.[15]

Penghormatan yang sangat besar al-Qur’an berikan kepada perempuan yakni adanya pembatasan dalam menikahi perempuan bagi laki-laki. Secara jelas al-Qur’an memberikan penekanan bagi laki-laki yang tidak bisa berbuat adil sebaiknya hanya menikahi satu orang perempuan saja. Syarat adil yang mesti dipenuhi bagi laki-laki yang ingin berpoligami menjadi bukti betapa al-Qur’an memuliakan perempuan. Karena, syarat berlaku adil begitu berat untuk dipenuhi bagi laki-laki dan itu artinya al-Qur’an secara jelas berpihak pada kaum perempuan.

Hadis Nabi yang menganjurkan untuk menghormati Ibu (perempuan) tiga kali sebelum bapak. Dari hadis tersebut mengisyaratkan betapa besar penghormatan Islam terhadap peran perempuan dalam kehidupan utamanya lingkup keluarga. Peran perempuan bukan hanya sekedar biologis dalam mengandung, tetapi juga meliputi mengasuh, merawat dan membesarkan anak serta mengurus kebutuhan keluarga.

Sehingga dalam ajaran Islam memberikan ruang bagi kaum perempuan dan penghormatan yang tinggi terhadap peran-peran yang dimainkan oleh perempuan. Seorang prempuan dalam al-Qur’an dapat menjadi pemimpin sebagaimana Ratu Balqis yang memerintah negeri Saba. Untuk itu, secara landasan teks suci perempuan memiliki hak dan dihargai keberadaannya sebagaimana laki-laki.

C.     Kerangka Sosial

1.      Kondisi Ummat Islam Pasca Nabi

Penyebaran Islam yang demikian massif sepeninggalan Nabi, yang menurut sejarawan modern H. G. Wells Tentara Byzantine dihancurkan pada pertempuran Yarmuk (anak Sungai Jordan) dan bangsa Persia ditaklukkan oleh Islam menyebabkan unsur-unsur besar populasi beralih ke Islam, kisah penaklukan Islam menjadi penaklukan yang paling menakjubkan di seluruh sejarah ras manusia.[16]

Pertambahan jumlah populasi ummat Islam yang memiliki latar budaya, bahasa dan suku yang berbeda. Penganut Islam bukan hanya mereka yang bersuku Arab Quraisy, keragaman penganut Islam untuk sementara tidak menimbulkan masalah. Tetapi, masalah secara sosial baru kemudian muncul ketika dipicu persoalan teologis yang memiliki efek secara sosial.

Peristiwa tahkim (arbitrase) antara Ali bin Abu Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan menjadi awal dari permasalahan-permasalahan yang menimpa Islam.[17] Terlebih lagi, ketika dari barisan Ali bin Abu Thalib yang kemudian hari dinamai dengan Khawarij keluar memisahkan diri. Khawarij mengibarkan panji dan semboyan la hukma ilalah sebagai bentuk protes kepada kalangan yang telah berunding tidak dengan menggunakan petunjuk-petunjuk dari Tuhan.

Pengikut Khawarij memiliki ptotipe yang berasal dari lapisan sosial yang lemah secara ekonomi dan berasal dari golongan masyarakat bawah secara status sosial. Yang bila dibandingkan dengan pihak Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan yang berasal dari kelas sosial yang terpandang di Mekkah.

Suara dan seruan protes yang dilakukan golongan Khawarij menjadi akumulasi aspirasi kalangan bawah. Peristiwa tahkim hanya momentum guna menyerukan persamaan hak dan ketidakadilan yang menimpa kalangan bawah. Isu sentral yang menjadi perdebatan teologis menyangkut persoalan kepemimpinan pasca Nabi.

Bagi kalangan Syiah Ali bin Abu Thalib memiliki hak baik dari segi yuridis (dalil teks) maupun genetik (ahlul bait). Tetapi, tidak semua kalangan sahabat Nabi senada dengan pandangan Syiah. Sejarah membuktikan pertemuan di Saqifah Bani Saidah merundingkan sosok pengganti Nabi, kaum Muhajirin dan kaum Anshar menimbang-nimbang jasa demi penguat dalil kelayakan mereka.

Keberadaan kaum Muhajirin dan kaum Anshar tidak terlepas dari peristiwa hijarah Nabi. Tujuan Muhajirin dan Anshar yang oleh Nabi dipersaudarakan dalam ikatan keimanan. Tetapi, sepeninggal Nabi menimbulkan rivalitas dalam merebut tempat sebagai pengganti Nabi. Secara kalkulasi ekonomis penganut ummat Islam yang mengalami ledakan populasi, yang menyebabkan tiap tahunnya ada banyak ummat Islam yang akan menunaikan ibadah haji dan umrah. Faktor teologis membawah berkah secara sosial ekonomi kepada masyarakat Mekkah, yang tentunya sosok penguasa berfungsi melindungi keamanan para jamaah.

Tuntutan pemerataan kepada semua wilayah kekuasaan Islam dan protes terhadap pengangkatan jabatan publik yang berasal dari keluarga Khalifah Usman. Seolah membenarkan bahwa penguasa Islam telah menghegemoni kehidupan termasuk menutup akses memegang jabatan publik, yang dimonopoli oleh keluarga penguasa. Protes dari arus bawah telah menyebabkan Khalifah Usman terbunuh, peristiwa ini mengawali tahkim dikemudian hari terjadi atas protes Muawiyah bin Abu Sufyan kepada Khalifah Ali bin Abu Thalib.

Kondisi arus bawah yang senantiasa menyerukan persamaan dan keadilan. Khawarij yang berasal dari latar kelas bawah menyerukan la hukma ilalah yang memiliki makna bahwa dihadapan hukum Tuhan manusia sama dan tidak ada perbedaan suku/kelas ekonomi. Kelompok yang terlibat tahkim dengan tidak berpedoman kepada hukum Tuhan memiliki potensi hanya memperjuangkan kepentingan pribadi.

Bagi Khawarij yang mengusung ide-ide persamaan dan perjuangan keadilan syarat untuk menjadi khalifah yakni beragama Islam.[18] Tidak ada patokan dan kemestian yang mempersyaratkan berasal dari kalangan Quraisy. Sikap Khawarij yang sangat demokratis dalam urusan kepemimpinan Islam, yang membuka ruang dan hak yang sama kepada semua ummat Islam dalam menduduki jabatan khalifah.

Sikap revolusioner yang ditunjukkan Khawarij sebagaimana yang ditulis oleh Nasr Hamid Abu Zayd sebagai berikut:

“Namun, apakah manfaatnya seorang perempuan menjadi hakim (qadi) ? Hasil dari perdebatan yang berlangsung antara pihak yang pro dan kontra itu umumnya bersandar pada pendapat para fuqaha. Pihak yang kontra bersandar pada konsensus (ijma) “jumhur” maksudnya mayoritas ulama dari mahzab Maliki, Syafi’I dan Hanbali bahwa prempuan tidak layak berkecimpung di dalam bidang pengadilan; karena ada anggapan bahwa kelelakian (zukurah) adalah salah satu syarat yang utama, karena pengadilan adalah salah satu bagian dari kepemimpinan atau imamah yang keduanya mensyaratkan kelelakian. Pihak yang pro menyandarkan diri pada Muhammad ibn Jarir at-Tabari seorang sejarawan, mufassir dan faqih, dan kepada Ibn Hazm az-Zahiri yang keduanya dengan disandarkan kepada posisi Khawarij berpendapat bahwa kelelakian bukanlah syarat untuk menjadi hakim (qadi), lelaki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam menduduki posisi hakim.”[19]

Khawarij telah menjadi gerakan teologis segaligus membawa pesan-pesan persamaan, kesetaraan dan keadilan untuk semua dengan menyentuh kondisi sosial. Posisi Khawarij secara politis beroposisi dengan penguasa Islam dan secara teologi mewakili suara-suara lapisan bawah yang banyak mengalami ketidakadilan.

Nawal El Saadawi menulis buku tentang Perempuan Dalam Budaya Patriarkhi menulis tentang peran perempuan dalam perjuangan Nabi sebagai berikut:

“Kita tentu masih ingat Nasiba binti Kaab yang berperang dengan pedangnya di samping Rasulullah pada perang Uhud dan tidak meninggalkan peperangan sampai ia terluka pada 13 tempat. Muhammad memeluknya dengan rasa hormat yang tinggi dan berkata “Kedudukanmu lebih tinggi daripada laki-laki. Wanita lainnya adalah Ummu Sulaim binti Malhan yang mengikat sebuah belati di perutnya yang hamil serta berperang dalam barisan Muhammad dan pengikutnya.”[20]

Nabi Muhammad Saw. telah memberikan contoh bahwa risalah Islam yang diembannya membuka ruang terhadap kaum perempuan. Seorang perempuan memiliki kebebasan dan hak yang sama dalam fungsi-fungsi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Kedatangan Islam membawa pesan-pesan persamaan dan bahkan Islam menjadi agama yang ramah bagi kaum perempuan. Barat yang hari ini, menjadi rujukan peradaban pernah dalam suatu masa mereka melarang bagi perempuan membaca Kitab Injil (Perjanjian Baru) oleh Raja Inggris Henry VIII.[21]

Ide-ide persamaan, keadilan, kemanusiaan dan penghormatan kepada perempuan dalam Islam memiliki banyak landasan teks dan contoh penerapan dalam kehidupan sosial yang dilakukan oleh Nabi. Tetapi, kondisi ummat Islam pasca Nabi yang mengalami pertentangan dan seruan persamaan yang diserukan Khawarij. Namun, penguasa Islam yang telah menghegemoni bahkan membungkam nilai-nilai kesetaraan yang dijunjung tinggi dalam ajaran Islam. Penguasa Islam bersama agamawan pro-kekuasaan telah mendesain hukum-hukum yang tidak lagi meletakkan la hukma ilalah yang menjamin persamaan.

2.      Bias-Bias Sosial Perbedaan Mahzab

Masalah utama ummat Islam bukan terletak pada ketiadaan dalil yang menjamin persamaan, nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan hak-hak kaum perempuan. Justru dalil dan praktik yang memberikan penghormatan kepada nilai-nilai kemanusiaan telah dilakukan oleh Nabi. Menurut, Hans Jacob Seilo, Islam mengalami masalah akibat perbedaan mahzab yang berakibat nilai-nilai kemanusiaan tereduksi. Nilai-nilai kemanusiaan terkoyak justru oleh ulah ummat Islam yang telah terkotak-kotak. Menurut, survei yang dilakukan Seilo dengan mengambil sampel dibeberapa negara Islam seperti Iraq, Lebanon, Tunisia, Jordan, Egypt, Palestina dan Maroko dengan mengajukan pertanyaan apakah Syiah Muslim atau Syiah bukan Muslim ? Data menunjukkan masih tinggi angka yang menunjukkan bahwa Syiah bukan Muslim.[22]

Penelitian Hans Jacob Seilo yang meliputi negara-negara Timur Tengah, negara-negara Balkan, negara-negara anak Benua India, negara-negara Asia Tenggara dan negara-negara Afrika dan Subsahara. Yang meneliti terkait pendidikan Islam berorientasi pada multi interpretasi (banyak penafsiran) yang akan bersikap toleransi terhadap perbedaan termasuk mahzab dalam Islam. Temuan lapangan  dari penelitian tersebut, menunjukkan rendahnya pengajaran yang memberikan pemahaman terkait multi perspektif.[23] Akibat dari pemahaman keagamaan yang hanya mengajarkan satu pandangan mahzab tertentu mengakibatkan banyak konflik-konflik keagamaan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

Konflik yang terjadi di negara-negara yang mayoritas Islam mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan lewat serangan bom bunuh diri. Krisis kemanusiaan yang terjadi di negara-negara mayoritas Islam mengakibatnya terjadinya gelombang migrasi yang dilakukan oleh ummat Islam di negara-negara Barat yang memberikan perlindungan secara kemanusiaan.[24] Terjadinya konflik yang berkepanjangan yang menimpa negara-negara mayoritas Islam menjadi bukti betapa lemah dan renggangnya nilai-nilai persaudaraan atas nama Islam. Padahal kalau ummat Islam menyadari bahwa antara Muslim yang satu dengan Muslim lainnya saling bersaudara. Pertanyaannya kalau sesama Muslim saja tidak saling menghargai, maka mungkin teramat sulit menghargai orang-orang di luar Islam.

Isu pemimpin perempuan dalam Islam tak kalah kontroversinya dengan berbagai persoalan dalam dunia Islam. Padahal dalam perjalanan sejarah Islam pernah ada perempuan yang tampil sebagai pemimpin dan pelopor perubahan. Razia Sulatana dari Delhi yang memiliki kecakapan militer, Ra’ana Liaquat Ali Khan tokoh perempuan India dan Pakistan, Fatima Jinnah tokoh perempuan Pakistan, Khaleda Zia dan Hasina Wazed dari Bangladesh, Megawati Seokarno Putri, Wan Azizah Wan Ismael dari Malaysia dan Benazir Bhutto.[25]

Perjuangan kaum perempuan dalam meraih pengakuan akan kesetaraan untuk memangku jabatan publik seolah berduka pada 27 Desember 2007 Benazir Bhutto yang kembali berkampanye memperjuangkan kehidupan demokratis dan kesetaraan hak-hak kaum perempuan mengalami serangan yang merenggut nyawa Benazir Bhutto.[26] Pelaku penyerangan yang menyebabkan kematian Benazir Bhutto berasal dari kalangan Islam garis keras yang tidak menghendaki kaum perempuan menduduki jabatan publik.

Permasalah perbedaan interpretasi dikalangan ummat Islam mesti menjadi konsen bersama. Bila ummat Islam percaya bahwa ajaran yang di bawah Nabi menghargai nilai-nilai kehidupan, tetapi fakta menunjukkan ada banyak korban atas nama agama. Kalau dalam al-Qur’an ada prinsip lakum dinukum wal yadin, untuk konsep penghargaan secara eksternal (di luar Islam). Mengapa ummat Islam melakukan hal yang sama kepada perbedaan-perbedaan secara internal ? Dialog lintas agama senantiasa dikampanyekan guna menciptakan kehidupan yang harmonis, tetapi dialog antar sesama penganut agama yang berbeda mahzab mungkin harus menjadi konsen semua kalangan. Untuk mewujudkan nilai-nilai Islam yang menjunjung harkat-martabat nilai kemanusiaan upaya serius menjalin dialog dan mengajarkan kepada ummat Islam bahwa ada banyak keragaman interpretasi yang mesti saling menghargai dan menghormati.

3.      Tawaran Kaum Intelektual Islam Kontemporer

Kaum intelektual Islam memiliki optimisme dalam menatap hari esok Islam yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan, toleransi dan menghargai kaum perempuan. Optimisme kaum Intelektual Islam didasari atas sikap progresif Islam ketika Nabi Muhammad Saw. mengajarkan persamaan antar manusia dengan tidak membedakan ras dan suku.

Islam membawa ajaran untuk semua manusia bukan hanya ditujukan kepada kalangan tertentu. Islam memiliki nilai-nilai universal yang terdapat dalam ajarannya yang mengakui persamaan antar manusia. sehingga tidak mengherankan apabila Islam dapat diterima oleh berbagai kebudayaan, bahkan kehadiran Islam membawa warna tersendiri.

Tokoh intelektual kelahiran Teheran Abdolkarim Soroush memiliki pandangan bahwa ummat Islam perlu menghadirkan nilai toleransi dan menghargai pluralisme.[27] Upaya tersebut, diharapkan akan menciptakan relasi yang penuh etika, kedamaian dunia dan penghormatan hak-hak kemanusiaan. Menurut, Soroush Islam dapat memberikan kontribusi terhadap kehidupan dunia dan kedamaian. Sebab, Islam memiliki etika yang sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan tradisi al-Qur’an sangat jelas menunjukkan dalil yang mendukung penghormatan kepada kemanusiaan.

Abdullahi Ahmed an-Naim menawarkan hermeneutika untuk memahami persoalan-persoalan hukum, tetapi hukum masa depan yang didambakan an-Naim yakni terbukanya ijtihad.[28] Upaya an-Naim yang lebih serius guna menghadirkan perubahan dalam Islam yaitu melakukan reformula ushul al-fiqih. Masalah yang senantiasa dihadapi ummat Islam terkait penafsiran-penafsiran lama yang tentu sudah sangat berbeda dengan kondisi ummat Islam. Tentu upaya menghadirkan pembaharuan dalam memahami dan menjalanakan ajaran agama memerluka kontekstualisasi dengan kondisi kekinian.

Khaled Abou El Fadl intelektual Islam yang merintis komitmen etika Islam dan hak-hak azasi manusia yang secara sistematis mengelaborasi teori hukum Islam.[29] Khaled Abou El Fadl membangun basis argumentasinya berdasarkan kepada lima hal pokok yang mesti diperhatikan seorang Muslim yakni agama, keturunan, jiwa,  akal dan harta. Sehingga seorang Muslim yang memahami betapa pentingnya hal tersebut, maka seorang Muslim akan memiliki komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Para intelektual Islam memiliki pandangan bahwa untuk mewujudkan ummat Islam yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan, bersikap toleran dan menghargai kaum perempuan. Peran intelektuat sangat diperlukan supaya ummat Islam menangkap pesan-pesan Nabi yang teramat lembut kepada sesama sebagaimana ungkapan Fatima Mernissi.

D.    Implikasi

Sumber-sumber teologis Islam memberikan ruang yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Manusia diciptakan oleh Tuhan yang akan menjalankan peran sebagai khalifah (wakil, pemimpin, penjaga dan pengayom) di muka bumi. Tuhan menciptakan manusia tanpa membedakan antara satu dengan lainnya, bahkan setiap manusia yang terlahir di muka bumi telah diberikan bekal potensi yang sama.

Teks-teks kitab suci yang menjadi dasar pedoman hidup ummat Islam telah memberikan dasar-dasar yang jelas bahkan keperpihakan Islam kepada kemanusiaan, hak-hak perempuan dan persaudaraan. Nabi sebagai panutan ummat Islam merupakan sosok yang care terhadap sesama.

Permasalah nilai-nilai kemanusiaan dan ketidakadilan yang dialami kaum perempuan pasca peninggalan Nabi. Ada banyak persoalan yang muncul termasuk perbedaan pandangan dikalangan ummat Islam. Kehadiran kalangan Khawarij yang menyuarakan protes mewakili kaum-kaum terpinggirkan. Tetapi, Khawarij tidak mampu berbuat banyak mengingat penguasa bersama agamawan telah merumuskan hukum-hukum guna memenuhi kepentingan pihak berkuasa.

Realita ummat Islam yang berbeda persoalan interpretasi menimbulkan masalah secara sosial. Munculnya berbagai aksi-aksi teror yang telah merenggut banyak korban dan menjadi bencana kemanusiaan. Padahal ajaran Islam senantiasa menjaga dan menghormati kehidupan, seorang Muslim diperintahkan menjaga jiwa, akal dan keluarga seolah membuktikan betapa Islam menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

Kalau ummat Islam tidak bisa berlaku toleran terhadap sesama Muslim, bagaimana mungkin ummat Islam akan menghargai di luar Islam ? Data statistik menunjukkan masih banyaknya ummat Islam yang menganggap Muslim Syiah bukan Muslim. Analisis terhadap kondisi yang terjadi pada dunia Islam, bahwa pengajaran tentang Islam tidak menghadirkan multi interpretasi yang membuat susahnya antar sesama Muslim yang berbeda mahzab saling toleran.

Peran intelektual Islam sangat besar diharapkan menghadirkan pemahaman kepada ummat Islam. Langkah-langkah yang menghadirkan pemahaman Islam yang komprehensif tanpa prasangka yang akan membuat ummat Islam lebih dekat dengan spirit Islam yang penuh dengan penghargaan kepada nilai-nilai kemanusiaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Isi

                                                                             

Al-Qur’an dan Terjemahan. Surabaya: Penerbit Duta Ilmu. 2008.

Abdouh, Mohamed, Anarca-Islam. Canada: Queen’s University. 2009.

Abdul, Khalik Musthafa, Neveen, al-Mu’aradhah fi Fikr al-Siyasi al-Islam, terj. Ali

Ghufron, Oposisi Islam. Yogyakarta: LKiS. 2012.

Ahmed, Abdullahi an-Naim, Islam dan Negara Sekuler: Menegosiasikan Masa Depan

Syariah. Bandung: Mizan. 2007.

Abu Zayd, Nasr Hamid, Dawair al-Khauf: Qiraah fi Khitab al-Mar’ah, terj. Moch.

Nur Ichwan dan Moch. Syamsul Hadi, Dekonstruksi Gender: Kritik Wacana Perempuan dalam Islam. Yogyakarta: SAMHA. 2003.

Ash-Shiddieqy, M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an/Tafsir. Jakarta:

Bulan Bintang. 1992.

Houshmand, Hossein, Islam and Human Rights. Canada: Concordia University. 2010.

J. Donohue, John John L. Esposito (ed), Islam in Transition, Muslim Perspectives, terj. Machnun Husein dengan judul Islam dan Pembaharuan: Ensiklopedia Masalah-Masalah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 1993.

Jacob Seilo, Hans, Equality and Human Development. California: Digital Library.

2017.

Latif, Muhaemin, Teologi Pembebasa Dalam Islam. Jakarta: Orbit Publishing

Jakarta. 2017.

Marry, Maliha, Muslim Female Leadhership. United States: UMI Dissertation

Publishing. 2011.

Munir Amin, Samsul ,Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah. 2010.

Nurhakim, Moh., Islam Responsif: Agama di Tengah Pergulatan Ideologi Politik dan

Budaya. Global Malang: UMM Press. 2005.

Ridwan, Kekerasan Berbasis Gender. Yogyakarta: Fajar Pustaka. 2006.

Saadawi, Nawan El, the Hidden Face of Eve, terj. Zulhilmiyasri, Perempuan Dalam

Budaya Patriarkhi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2011.

Shihab, M. Quraish, Perempuan. Tangerang: Lentara Hati. 2018.

Sou'yb, Yoesoef, Orientalisme dan Islam.. Jakarta: Bulan Bintang. 1990.

Tafsir Jalalain Versi 16. 1. 9 Jalaluddin as-Syuyuti dan Jalaluddin al-Mahalli.

Wells, H. G., Sejarah Singkat Dunia. Yogyakarta: Indoliterasi. 2015.



[1] Yoesoef Sou'yb, Orientalisme dan Islam. (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h.18.    

[2] Muhaemin Latif, Teologi Pembebasa Dalam Islam (Jakarta: Orbit Publishing Jakarta, 2017), h. 105-106.

[3] John J. Donohue, John L. Esposito (ed), Islam in Transition, Muslim Perspectives, terj. Machnun Husein dengan judul Islam dan Pembaharuan: Ensiklopedia Masalah-Masalah (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1993), h. V-Xii Kata Pengantar.

[4] Nasr Hamid Abu Zaid, Mafhum an-Nash Dirasah fi ulum al-Qur’an, terj. Khoiron Nahdiyyin (Yogyakarta: Lkis, 2013), h. 63.

[5] Moh. Nurhakim, Islam Responsif: Agama di Tengah Pergulatan Ideologi Politik dan Budaya Global (Malang: UMM Press, 2005), h. 42.

[6] Tafsir Jalalain Versi 16. 1. 9 Jalaluddin as-Syuyuti dan Jalaluddin al-Mahalli.

[7] Al-Qur’an dan Terjemahan (Surabaya: Penerbit Duta Ilmu, 2008)

[8] Al-Qur’an dan Terjemahan (Surabaya: Penerbit Duta Ilmu, 2008)

[9] Al-Qur’an dan Terjemahan (Surabaya: Penerbit Duta Ilmu, 2008)

[10] Tafsir Jalalain Versi 16. 1. 9 Jalaluddin as-Syuyuti dan Jalaluddin al-Mahalli.

[11] Abdullahi Ahmed an-Naim, Islam dan Negara Sekuler: Menegosiasikan Masa Depan Syariah (Bandung: Mizan, 2007), h. 143.

[12] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Amzah, 2010), h. 277.

[13] M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an/Tafsir (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 26.

[14] Ridwan, Kekerasan Berbasis Gender (Yogyakarta: Fajar Pustaka, 2006), h. 111.

[15] M. Quraish Shihab, Perempuan (Tangerang: Lentara Hati, 2018), h. 121.

[16] H. G. Wells, Sejarah Singkat Dunia (Yogyakarta: Indoliterasi, 2015), h. 183.

[17] Neveen Abdul Khalik Musthafa, al-Mu’aradhah fi Fikr al-Siyasi al-Islami, terj. Ali Ghufron, Oposisi Islam (Yogyakarta: Likis, 2012), h. 258.

[18] Neveen Abdul Khalik Musthafa, al-Mu’aradhah fi Fikr al-Siyasi al-Islami, terj. Ali Ghufron, Oposisi Islam (Yogyakarta: Likis, 2012), h. 259.

[19] Nasr Hamid Abu Zayd, Dawair al-Khauf: Qiraah fi Khitab al-Mar’ah, terj. Moch. Nur Ichwan dan Moch. Syamsul Hadi, Dekonstruksi Gender: Kritik Wacana Perempuan dalam Islam (Yogyakarta: SAMHA, 2003), h. 161.

[20] Nawan El Saadawi, the Hidden Face of Eve, terj. Zulhilmiyasri, Perempuan Dalam Budaya Patriarkhi (Cet. II, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 252.

[21] M. Quraish Shihab, Perempuan (Tangerang, Lentera Hati, 2018), h. 115.

[22] Hans Jacob Seilo, Equality and Human Development (California: Digital Library, 2017), h. 30.

[23] Hans Jacob Seilo, Equality and Human Development (California: Digital Library, 2017), h. 35.

[24] Mohamed Abdouh, Anarca-Islam (Canada: Queen’s University, 2009), h. 14.

[25] Maliha Marry, Muslim Female Leadhership (United States: UMI Dissertation Publishing, 2011), h. 40.

[26] Maliha Marry, Muslim Female Leadhership (United States: UMI Dissertation Publishing, 2011), h. 61.

[27] Hossein Houshmand, Islam and Human Rights (Canada: Concordia University, 2010), h. 127.

[28] Hossein Houshmand, Islam and Human Rights (Canada: Concordia University, 2010), h. 135.

[29] Hossein Houshmand, Islam and Human Rights (Canada: Concordia University, 2010), h.  159.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here