Perempuan Dalam Filsafat Eksistensialisme Simone De Beauvoir (Part I) - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 16 Januari 2021

Perempuan Dalam Filsafat Eksistensialisme Simone De Beauvoir (Part I)


Siti Indah Khanazahrah*


Simone De Beauvoir selain seorang filsuf, feminis, novelis asal Prancis, juga salah satu kiblat feminisme modern atas narasi-narasi kritisnya mengenai ketidakadilan gender sebagaimana terangkum dalam salah satu karyanya “The Second Sex”. 


Karyanya, Le Deuxieme Sexe (The Second Sex) inilah yang kemudian mengantarkannya pada pemikiran feminisme eksistensial. Beauvoir mengawali kritiknya dengan mengurai akar penindasan perempuan yang notabene sudah terwujud di zaman kerajaan-kerajaan kuno; dahulu kala. 


Ironisnya, nasib perempuan di dunia yang sedari awal tertindas, justru tidak disadari oleh sebagian besar perempuan hingga hari ini. Dasar ketidaksadaran perempuan salah satu diantaranya adalah marginalisasi perempuan sebagai liyan dalam kultur yang dikonstruk laki-laki sudah terlanjur mengakar, dimana laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek, tegas Beauvoir.


Berbeda dengan feminisme lainnya yang melakukan perjuangan di ranah publik, Simone De Beauvoir dalam feminisme eksistensialnya justru memulai perjuangan melalui gerakan individual di ranah domestik. Belum diketahui secara pasti apakah ini lantaran pengalaman langsung yang dirasakan atau sekumpulan fakta yang dilihat bahwa akar diskriminasi atas perempuan ternyata dominan ada dalam kehidupan domestik. 


Tetapi yang menarik bahwa landasan perjuangan feminisme secara umum adalah sama, dunia yang sedari awal berdiri di atas patriarkisme yaitu sistem yang dikonstruksi lebih berciri kelaki-lakian, inilah yang hendak dikritik feminisme untuk kehidupan yang lebih adil; seimbang dan berprikemanusiaan.


Simone De Beauvoir dalam feminisme eksistensialismenya sedikit banyak dipengaruhi oleh epistemologi eksistensialisme Jean Paul Sartre, salah satu diantaranya adalah teori etre en soi dan etre pour soi. 


Etre en soi adalah segala sesuatu; termasuk manusia yang tidak memiliki kesadaran, tidak mampu menimbang tujuan hidupnya, tidak mampu berpikir mandiri, bahkan bisa dikategori sebagai benda mati.


Berbeda dengan etre pour soi yaitu segala sesuatu yang memiliki kesadaran dan itu adalah manusia itu sendiri. 


Konsep ini akan absurd ketika diterapkan dalam feminisme eksistensial Simone De Beauvoir karena manusia (laki-laki dan perempuan) tidak mungkin di dalam dirinya mewujud kedua (etre en soi dan etre pour soi) kualitas ini. Maka berdasarkan fenomena hidup bagi perempuan, keberadaan mereka hanya menjadi etre pour les autres (ada untuk yang lain), perempuan adalah liyan, sosok yang lain bagi laki-laki.


Pandangan Simone De Beauvoir ini tidak terlepas dari berbagai kritik baik secara data biologi, psikoanalisis maupun materialisme sejarah. Tetapi kemudian terbantahkan dengan dominasi, relasi kuasa, dan ke-liyanan perempuan hanya bentukan laki-laki belaka tanpa dasar yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Kekuatan otot yang notabene dimiliki laki-laki tidak serta-merta menjadi dasar dominasi terhadap manusia yang lain. 


Demikian juga klaim atas kecemburuan perempuan terhadap penis pada laki-laki tidaklah benar melainkan perempuan hanya menginginkan respon psikologis yang etis; tanpa tendensi kekuasaan dari pemilik penis (laki-laki). 


Selanjutnya Simone De Beauvoir mengungkapkan secara sistematis fakta-fakta ketidakadilan atas perempuan dalam sejarah yang dimulai pada masa nomaden (berburu dan meramu), zaman agraris, zaman industri dan akhir revolusi Prancis yang menggambarkan situasi perempuan sebagai liyan yang mengalami penindasan hingga menemukan ruang untuk bebas.


Dalam narasi-narasi purba misalnya dijumpai kisah Adam dan Hawa yang ditafsirkan Tuhan menciptakan Hawa dikarenakan Adam sendirian dan merasakan kesepian yang sungguh mencekam, maka penciptaan Hawa adalah semata mengusir kesepian yang melanda Adam. Dalam cerita yang sama ketika Adam memakan buah Khuldi yang dilarang oleh Tuhan baginya, tafsir yang berkembang kemudian adalah Hawa sebagai penyebabnya.


Hawa yang merayu Adam sehingga akhirnya memakan buah terlarang itu. Hawa adalah perayu dan selalu menjadi sumber energi negatif bagi Adam. Dengan kata lain perempuan adalah liyan, selalu menjadi objek kedua dan selalu mendapat posisi yang tidak mengenakkan. 


Bukan hanya narasi Adam dan Hawa, dalam kerajaan-kerajaan kuno juga dijumpai nasib perempuan layaknya properti. Pada masa Arab kuno, Mesir kuno, Romawi kuno, India kuno, Timur Tengah, dan dinasti-dinasti kuno lainnya seperti Cina kuno, perempuan dicitrakan tidak lebih sebagai barang koleksian yang menjadi standar kesuksesan bagi laki-laki.


Semakin banyak perempuan yang dimiliki oleh laki-laki (para kepala suku maupun raja) maka semakin tinggi status sosial yang diraih. Dengan kata lain perempuan pada masa itu menjadi simbol kejayaan bagi laki-laki melalui tradisi per-selir-an. 


Di kerajaan Cina Kuno misalnya dijumpai seorang Kaisar yang memiliki selir bahkan mencapai tiga ribuan. Ini menunjukkan betapa nilai dan keadilan bagi perempuan di Cina kuno sungguh tidak diperhitungkan dimata kekuasaan (raja). Inilah kira-kita gambaran situasi yang terjadi di zaman dulu dengan segala ketidakadilan yang dialami perempuan.


Lalu apa yang terjadi dengan dunia modern; dunia kita hari ini? Bagaimana perempuan menyikapi dirinya secara individu maupun feminitas sebagai liyan yang seolah sudah takdir baginya. Suatu tantangan atau justru hukuman bagi perempuan menyikapi situasi ini sehingga filsuf perempuan seperti Simone De Beauvoir harus memandang kematian bagi perempuan menjadi pilihan lebih terhormat. 


Pada kehidupan desa misalnya perempuan harus menanggung beban ganda yaitu pekerjaan domestik sekaligus pekerjaan publik seperti pertanian, dagang, atau pemerintahan. Berbeda dengan laki-laki yang cenderung mentok pada pekerjaan publik.


Pekerjaan-pekerjaan domestik dianggap remeh bagi mereka dan lebih cocok dikerjakan oleh perempuan saja. Atau di kehidupan kota misalnya dengan tradisi kapitalismenya, umumnya pekerjaan ayah adalah kantor dan ibu di rumah.


Pekerjaan ayah menghasilkan gaji, sewaktu-waktu memperoleh penghargaan ketika ada kenaikan jabatan, dan bermacam hal positif lainnya. Sedangkan ibu di rumah dengan pekerjaan yang seabrek, mengurus anak dan sebagainya, tidak memperoleh gaji, tidak ada penghargaan, justru menuai penilaian atau pembacaan masyarakat sebagai pihak yang menghabiskan uang.


Seolah kelemahan sudah menjadi takdir perempuan sehingga posisi perempuan selalu pada posisi lemah; inferior dan serba salah. Setidaknya inilah penggalan alasan yang menjadi sebab perempuan seperti Beauvoir melakukan kritik lebih jauh pada dunia yang kurang memihak perempuan sebagai manusia seutuhnya.


Siti Indah Khanazahrah

(Koordinator Rumah Kajian Filsafat Makassar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here