Meneropong Indonesia Dari Lensa Teologi Part V - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 31 Januari 2021

Meneropong Indonesia Dari Lensa Teologi Part V

Ilustrasi by Www.fideschannel.com


Taufik Abdullah salah satu tokoh pemikir Indonesia menggambarkan perkembangan dan polarisasi Islamisasi di Indonesia berkisar pada fase kedatangan Islam yang menunjukkan proses dialog antara pemuka Islam dengan masyarakat Indonesia yang telah memiliki sistem nilai dan fase ini menunjukkan keunikan dengan adanya upaya tranfrormasi Islam dan budaya melakukan proses pembauran


Fase berkembang dengan mengalami fase penerimaan Islam sebagai agama dan mengupayakan terbentunya tatanan masyarakat Islam. Fase Islam menjadi kekuatan politik yang ditandai dengan berdirinya berbagai kerajaan-kerajaan Islam.


Kuntowidjoyo salah satu tokoh pemikir Indonesia yang konsen mengkajih perkembangan Islam di Indonesia dari aspek sosial memberikan saran kepada umat Islam Indonesia untuk melakukan berbagai upaya dalam melakukan proses transformasi keilmuan yang berbasis Islam. 


Pertama, pengembangan penafsiran sosial-struktural dari pada penafsiran individu ketika memahami ketentuan dalam al-Qur’an. Contoh apabila bertemu ayat yang melarang hidup berlebihan maka muncul respon pribadi menghindarinya, tetapi lebih penting mencari sebab-sebab secara struktur yang mendasar mengapa gejalah hidup berlebih-lebihan bisa muncul di tengah kehidupan masyarakat. 


Analisis struktur menunjukkan adanya sikap dan perbuatan keserakahan secara kapital. (Sarekat Islam mengkonsolidasikan kekuatan pedagang demi mengimbangi praktik ekonomi yang monopoli).


Kedua, cara berpikir subjektif ke objektif dalam konsep teologi zakat tidak hanya sebagai pelunasan kewajiban, tetapi lebih mendasar lagi zakat menjadi sarana mewujudkan kesejahtraan sosial. 


Ketiga, mengubah Islam normatif ke teoritis, terkadang umat Islam hanya menafsirkan ayat pada level normatif, padahal al-Qur’an menawarkan prinsip teori (grand teori) seperti hubungan ketakwaan dan kesejahtraan. 


Keempat, mengubah sosial pemahaman teologi Islam dari yang a historis menjadi historis (Fir’aun bukan hanya ada pada kurung tertentu tetapi juga pada masa kekinian). Kelima, umat Islam perlu melakukan interpretasi terhadap sumber-sumber keislaman demi mendorong kemajuan.


Dalam perkembangan kehidupan masyarakat Islam terdapat berbagai corak dan respon terhadap perkembangan zaman. Corak tradisionalis yang lebih menekankan kepada hubungan dengan tuhan dari sisi berkah dan ganjaran kebaikan. 


Sebaliknya, kalangan modernis mewujudkan hubungan kepada tuhan dengan cara kerja keras yang tentunya dibarengi dengan penggunaan akal.


Corak skriptualis memiliki pemahaman normatif terhadap teks, kurang membuka ruang terhadap penafsiran baru, menutup wacana pemikiran alternatif, kurang menunjukkan sikap toleran terhadap keragaman dan lebih menekankan aspek formalistik, legalisme dan simbolistik.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here