Meneropong Indonesia Dari Lensa Teologi Part II - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Kamis, 21 Januari 2021

Meneropong Indonesia Dari Lensa Teologi Part II

Ilustrasi by Www.fideschannel.com


Al-Farabi pemikir Islam yang menguraikan bahwa Tuhan yang Esa al-Wahidul Haqq (satu yang hakiki) yang bermakna satu menurut substansinya yang tidak akan menjadi banyak disebabkan oleh apapun juga, tidak akan terbagi-bagi dalam bentuk apapun. Ibnu Sina pemikir Islam berpandangan bahwa ilmu tentang cara turunya wahyu dan mahluk rohani yang membawa wahyu, cara wahyu disampaikan dari yang bersifat rohani ke yang bersifat dapat di lihat dan di dengar, ilmu yang terkait keakhiratan.


Dalam perjalanan sejarah teologi dalam setiap agama mengembangkan konsep, gagasan dan pemikiran terkait pembuktian tentang tuhan serta keunggulan ajaran/doktrin keagamaan yang mereka anut. Baik dunia Kristen maupun Islam didapatkan pengaruh pemikiran Aristoteles dalam narasi-narasi pembuktian tentang adanya tuhan lewat causa prima (sebab awal) yang telah digunakan secara kreatif dan khas dalam setiap teolog agama-agama.


Bagi teolog membela keyakinan menjadi panggilan suci, sebaliknya bagi ilmuwan membela temuan ilmiah menjadi panggilan akal


Istilah modern (kekinian) didapati dalam perkembangan sejarah industri di Eropa dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt, mesin cetak oleh Mars Zukenberg, mesin hitung oleh Blaise Pascal dan berbagai penemuan di bidang teknologi dan industri yang telah merubah cara pandang manusia terhadap dunia.


Manusia Eropa tidak lagi menjadikan tuhan sebagai titik sentral kehidupan, melainkan menggeser sumbu poros pengkajian terhadap manusia sebagaimana terjadi pada penggeseran pemahaman bahwa bukan bumi pusat tata surya sebagaimana sangkaan para agamawan/teolog Geraja di Eropa, melainkan matahari pusat tata surya sebagaimana pembuktian ilmuwan. Yang pada satu sisi, melahirkan gerakan oposisi terhadap keilmuwan gereja khususnya terkait ilmu-ilmu alam dan saintis. 


Secara psikologis di Eropa terjadi rasa saling curiga antara kalangan agamawan/teolog dengan ilmuwan. Bagi teolog membela keyakinan menjadi panggilan suci, sebaliknya bagi ilmuwan membela temuan ilmiah menjadi panggilan akal. Sehingga efek dari era modern di Eropa melahirkan sikap sekuler (pemisahan agama dari ruang-ruang publik).


Menurut Cellarius seorang sejarawan berkebangsaan Jerman, menuturkan 3 kriteria pembagian zaman yakni zaman purba, zaman pertengahan dan zaman modern. Lebih lanjut menurut Cellarius, zaman modern berawal dari direbutnya Konstantinopel yang menandai lahirnya gerakan invasi dan semangat mengembangkan teknologi serta munculnya gerakan pelayaran keberbagai dunia (buntut dari kebijakan Ottoman yang menutup jalur penghubung perdagangan antara Eropa dan Asia).


Pada era modern dalam hal keterkaitannya dengan agama atau tuhan menghadapi berbagai pertentangan yang menyebabkan para teolog mesti survive dalam menangkal berbagai isu dan permasalahan yang dilontarkan para ilmuwan. Dalam jajaran pemikir Modern dari Karl Marx, Frederich Enggel, Nietzshe, Emile Durkheim, Frued, hingga Auguste Comte melontarkan pemikiran dengan nada pesimistis terhadap masa depan agama atau tuhan dalam perkembangan dunia modern.


Tetapi, para teolog juga tidak kehabisan ide dalam mempertahankan dan membela agama atau tuhan, malah dari jatung gema zaman modern juga turut bergema para teolog yang memberi respon dengan menggulirkan ide-ide reformis dalam kehidupan keagamaan sederet tokoh seperti Johannes Huss, Martin Luther dan Calvis dengan arah gema kanan (khas agama) berlawanan dengan arah kiri (khas pemikir modern).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here