Manusia Dan Problematika Lingkungan Part I - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 17 Januari 2021

Manusia Dan Problematika Lingkungan Part I

Muhammad Farid Afandi Syam*


Narasi teologi kini hanya menjadi semboyan akan kecemasan imaji-imaji tanpa sebuah daya kritik. Nalar ekologis kini semakin redup dalam kehidupan teologi, yang semakin mengalami diaspora asali dan hukum penciptaannya. 


Teologi terlalu antroposentik sebab memposisikan alam sebagai sesuatu yang ada di luar kemanusiaan. Dialektika usang yang kembali menyergab teologi, menidurkan realitas ekologi sebagi sesuatu yang hadir untuk dieksploitasi dan tidak memiliki nilai bagi kehidupan akhir sebuah ajaran teologis.


"Manusia menjadi satu-satunya ciptaan yang mewakili Tuhan sebagi leader bagi kehidupan ekologi"


Masjid, Gereja, Wihara, Pure, Sinagoge dan ragam rupa bentuk rumah ibadah dari berbagai rupa ajaran teologi, yang dalam kehidupan histori sosiologinya. hanya menyajikan polemik tajam akan perbedaan. 


Dan dimana dinamika sosial yang berkepanjangan itu dengan motif kemuliaan ajaran teologi tertentu mempertontonkan aksi teror antara golongan teologi A untuk golongan teologi B membenci konsep keimanan akibat polemik narasi yang berbeda.


Peradaban teologi telah mengalami dinamika sejarah yang krusial, dengan berbagai literatur yang menjadi acuan kewarasan dalam wawasan keberagamaan. Peradaban teologi menghadirkan sebuah khasana keintelektualan dengan menara gading barat dan timur instrument pemetaan yang cukup dikotomi dari masa klasik hingga hari ini. 


Menjadikan isu-isu ekologi sebagai isu moral. Bukan sesuatu yang mudah, dengan melihat narasi khotbah para tokoh agama yang mengalami konstruk ideologi, yang sedikit menjadi alat dari sebuah gerakan praktisi ekopol.


Ini bukan menuding bahwa para tokoh agama hari ini, menjadi simpatisan massif akan gerakan ekopol. Namun, ini murni dan hanya sebuah bentuk kecemasan yang saya coba tuangkan kedalam tulisan. Ini juga bisa menjadi atau dikatakan gerakan oto-kiritik untuk konsep teologi, yang tidak menghadirkan kesadaran ekologis. 


Dalam perbincangan dogma di rumah-rumah ibadah mereka. Peradaban telah jauh menyejarah, menyisakan kesenjangan bukan hanya dari segi politik dan ekonomi, namun itu juga sampai pada tatanan ekologi. 


Sinergitas antara konsep teologi, seharusnya menjadikan polemik ekologi sebagi Polemik bersama, bukan memperselisihkan konsep kebenaran di masing-masing teologi. Namun, bagaimana manjadikan konsep teologi yang teranut dapat meyelematkan seluruh kehidupan di bumi?


Postulat-postulat keagamaan membutuhkan narasi baru, untuk mencerahkan umat di masing masing konsep teologi. Jika ingin seditik menyingung konsepsi dosa dalam teologi ?


Apakah ketika manusia merusak mekanisme ekologi, dengan menebang hutan (ali fungsi lahan), membuang sampah pada aliran air (baik yang alami maupun yang buatan), mengesploitasi sumber mineral bumi dan banyak lagi bentuk ketidak adilan yang dilakukan manusia terhadap ekologi, Apakah itu bukan bentuk dosa dalam narasi teologi ?


Masjid, Gereja, Wihara, Pure, Sinagong dan ragam rupa bentuk rumah ibadah. Dari berbagai rupa ajaran teologi, seharusnya menjadi tempat untuk menemukan solusi untuk mengurai permasalahan ekologi hari ini. Mungkin diksi ini terlalu utopia dalam memposisikan ekologi karena secara eksistensi ekologi berada di luar dari penalaran konsep teologi antroposentrik yang mengalami kawarasan menyimpang.


Posisi manusia dalam teologi menitik pada poros kesempurnaan dalam narasi penciptaan kitab-kitab suci. Manusia menjadi satu satunya ciptaan yang mewakili Tuhan sebagi leader bagi kehidupan ekologi. Dan dalam sejarah panjang filsafat, manusia menjadi pusat alam semesta. Narasi dan dominasi akan antroposnterik, bukan menjadi sesuatu yang baru dalam dunia akademik dan peradaban.


Telah dan bahkan gerakan konservasi, telah manusia lakukan untuk menyelamat peradaban dari bencana ekologi yang lebih buruk. Tentunya itu tidak terlepas dari pertimbangan-pertimbangan antroposentrik. 


Karena, manusia tidak ingin kehilangan daratan untuk hunian dan sumber makanan. Sehingga malakukan konservasi pesisir sebagai bentuk kepedulian kepada lingkungan. Namun, di sisi lain teologi masih sibuk dengan dogma yang sarat dengan motif kepentingan dan hasrat kuasanya.


Jejak peradaban teologi hanya menjadi sangsi, dalam kerusakan ekologi yang terjadi dalam sederet waktu yang tidak bertuan. Melepaskan tanggungjawab perimordial ketuhanan dengan dalih mengolah dan pemanfaatan. 


Kini kesangsian itu menghantarkan nilai-nilai luhur teologi untuk berhadapan dengan antroposentrik di meja hijau tanpa hakim untuk kasus eksploitasi dan diskriminasi ekologi. 


Muhammad Farid Afandi Syam (Pegiat Literasi Lingkungan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here