Kisah Kampus - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 22 Januari 2021

Kisah Kampus

 

Ilustrasi by Www.fideschannel.com

Di setiap perjumpaan senantiasa diawali dengan persembahan, sebagaimana perjumpaan nabi adam dengan para malaikat, yang mempersembahkan sujud penghormatan, perjumpaan nabi adam dengan siti hawa, maka mereka pun saling mempersembahkan cinta diantara mereka. Oleh, karena itu perjumpaan saya dengan hadirin sekalian izinkanlah saya mempersembahkan salam.


Assalamualaikum wr.wb 

Segala puji bagi Allah taalah tuhan seru sekalian alam, yang selayaknya mendapatkan pujian. Yang telah mengirimkan peman-pemain terbaik dalam setiap episode kehidupan, mulai dari episode nabi adam hingga episode nabi akhiruzaman nabi muhammad saw. Guna menuntun manusia untuk menjadi pemain terbaik disetiap kehidupan yang dilakoninya.


Hadirin yang berbahagia

Di malam ini, tak sanggup rasanya mengungkapkan untaian kata untuk mewakili gugusan perasaan yang bersemanyam dalam diri kita. sebab pertemuan di malam ini, bukan sekedar mempertemukan sorotan mata dan raut mentari yang bertengger di wajah serta goresan-goresan ritmik senyum di beranda wajah telah mematrikan prasasti perjumpaan di malam ini.


Bila membuka lembaran-lembaran memori dalam perpustakaan ingatan kita. di sana ada wajah-wajah yang penuh dengan kostum semangat membara dalam tungku dadanya, ada sejuta kenginan menyelami samudra pengetahuan yang kelak akan menghantarkannya pada pulau harapan (4 tahun yang lalu).


Pada lembaran itu pulalah kita menjumpai dua sosok bagai mentari dan rembulan yang senantiasa menyinari bumi sang anak. Pada ke-2 sosok yang penuh dengan kebesaran hati itulah pangkal pintu menapaki langkah menuju universitas. Walau kepergian menuju lautan samudra pengetahuan diiringi dengan tawa, lambaian tangan dan do’a, tetapi dari kejauhan sinar matanya tak sanggup beradu kecepatan dengan laju kepergian dari anaknya untuk menuntut ilmu pengetahuan. 


Hingga dari raut wajah yang bersinar tak sanggup menahan tetesan-tetesan air matanya mengiringi perjalanan sang anak.

Di tengah perjalanan menempuh samudra ilmu pengetahuan tak jarang hempasan ombak menerjang kapal penuh cita, yang bisa saja membuatnya karam di tengah perjalanan. Berbekal do’a dan nasihat dari kedua orang tua yang begitu penuh wulas asih dan ketulusan sebagai pedoman menguatkan tekad. 


Bila rasa sepi, sendiri dan sendu menghampiri pikiran yang kalut dan gunda, sembari menatap langit-langit kamar, terkadang bisikan penguat semangat menghampiri dalam ungkapan bugis “pura babbara’ sompekku, pura tangkisi golikku, ulebbirenni tellenge’ nato’walie”, “le’ba kusoronna biseangku, kucampana sombalakku, temmassaile punna teai labuang”, “de’k nalabu essoe ri tengana bitarae”, “resopa temmangingi na lompengi pammase dewatae” menjadi penguat spirit ketika rasa rindu akan kampung halaman dan terlebih lagi kerinduan yang teramat dalam kepada kedua orang tua, tetapi ada rasa dalam sanubari yang paling dalam bahwa kepergian menuntut ilmu pengetahuan yang mengharuskan kita berpisah jauh yang dipisahkan oleh gugusan-gugusan gunung dan pulau dari orang-orang tercinta, karena pada hakikatnya hanya tubuh yang terhalang jarang tetapi perjumpaan untaian do’alah yang senantiasa mempertemukan kita.


Hadirin yang berbahagia

Dulu mungkin hanya sekedar mimpi, mendengar dan melihat tentang orang-orang yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi hingga meraih gelar sarjana. Mungkin kita secara pribadi dan orang tua tidak pernah berpikir akan sampai pada titik ini, mengingat ada banyak faktor yang terkadang menggoyahkan pendirian untuk melanjutkan atau berhenti ditengah jalan karena alasan ekonomi. Mengingat melanjutkan pendidikan dibangku kuliah membutuhkan biaya, tapi dengan keteguh hati dan kerja keras dari orang tua dan kita secara pribadi semua hambatan yang merintangi jalan itu akhir mampu ditaklukkan.


Pada kesempatan ini izinkanlah saya untuk menuturkan sebuah kisah tentang seorang anak yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi. Pada saat proses pendaftaran masuk universitas dibuka anak tersebut ikut mendaftarkan bersama dengan teman-temannya yang lain, yang penuh dengan semangat sebab dia betul-betul berharap dapat diterima pada perguruan tinggi impiannya. 


Hingga suatu hari pengumuman lulus masuk universitas diumumkan, dengan penuh rasa was-was menatap nama-nama yang tertera dan akhirnya menemukan bahwa dirinya lulus diterima pada kampus pilihannya. Anak tersebut dengan penuh kegirangan akhirnya menemui kedua orang tuanya menyampaikan bahwa dirinya diterima masuk universitas dan orang tuanya pun akhirnya berbahagia menerima kabar tersebut. Tapi, tak berselang lama anak tersebut kembali mendapatkan informasi bahwa dirinya diterima disebuah perguruan tinggi di Jakarta, bukan main senangnya anak tersebut. 


Karena, kini dirinya diterima di dua universitas segaligus, yang berbeda dengan perguruan tinggi sebelumnya pada perguruan tinggi di Jakarta menyediakan beasiswa bagi anak tersebut. Dengan perasaan senang akhirnya anak tersebut mengutarakan kepada kedua orang tuanya, bahwa dirinya diterima di dua kampus segaligus sembari anak tersebut berharap akan di izinkan menempuh pendidikan di Jakarta tetapi kedua orang tuanya menghendaki dirinya untuk melanjutkan pendidikan pada universitas yang tak terlalu jauh dari kampung halamannya. Anak tersebut dengan penuh suka cita menuruti perkataan kedua orang tuanya menempuh jenjang pendidikan sesuai dengan restu orang tuanya.


Hadirin yang berbahagia

Mungkin kisah anak tersebut berbeda dengan kisah yang kita alami, tetapi seirama dalam hal mendapatkan restu dari kedua orang tua. Tak heran bila restu orang tua bagai roket yang melesat menembus lapisan-lapisan rintangan, seorang Syeihk Abdul Qadir Jaelani sebelum meninggalkan kampung halamannya menuju ke Bahdag untuk mencari dan menempuh ilmu pengetahuan. 


Terlebih dahulu Syeihk Abdul Qadir Jaelani berlutut meminta restu dari ibunya untuk pergi meninggalkannya seorang diri, sembari menarik nafas sang ibunda tercinta Syeihk Abdul Qadir Jaelani mengusap kepala anaknya sembari bertutur “wahai anakku syeihk Abdul Qadir Jaelani pergi dan tuntutlah ilmu pengetahuan walaupun engkau harus menjelajahi negeri yang jauh. Pesan ibu kepadamu hanya satu yakni berkata jujurlah. Jangan pernah kembali apabila engkau belum menguasai ilmu pengetahuan yang engkau cari, walaupun mungkin anakku Syeihk Abdul Qadir Jaelani pertemuan ini adalah pertemuan terakhirku denganmu, mungkin saat engkau kembali ibu sudah tak ada lagi tapi pada saat itu engkau telah menjadi orang dengan ilmu pengetahuan yang luas, anakku restuku bersamamu”. 


Berbekal restu dari orang tuanya Syeihk Abdul Qadir Jaelani menempuh perjalanan menuju Bahdag dan ditengah jalan rombongan yang diikuti Syeihk Abdul Qadir Jaelani dihadang perampok, semua barang dan uang disita dengan penuh kegarangan bos perampok tersebut bertanya apakah masih ada yang membawa barang dan uang yang belum disita ? dengan cepat Syeihk Abdul Qadir Jaelani mengatakan ada, uangku yang disimpan oleh ibuku yang dijahit pada baju yang kukenakan ini. 


Tiba-tiba bos perampok tersebut menangis tersedu-sedu dan memerintahkan pada anak buahnya untuk menyerahkan semua barang dan uang yang telah disita. Dengan penuh keherangan anak buah perampok tersebut bertanya kenapa mesti dikembalikan bukankah kita telah merampasnya dari mereka. Apakah engkau tidak malu anak ini begitu jujur mengatakannya pada kita, kita telah lama berbuat ketidakjujuran sehingga malu rasanya kalau anak kecil itu jauh lebih jujur ketimbang kita yang telah lama menjalani kehidupan di dunia ini.


Hadirin yang berbahagia

Karena restu orang tua yang begitu besarlah sehingga selama menempuh pendidikan di bangku kuliah kita mampu menghadapi berbagai tantangan. Sehingga kita perlu menyadari bahwa gelar sarja yang kita sandang adalah persembahan kita sebagai seorang anak dari pengorbanan orang tua yang begitu besar, kita mungkin saja bisa berleha-leha tetapi kedua orang tua kita tidak pernah sedetik pun memikirkan kita dan merelakan tubuhnya bercucuran keringan dan malamnya tak senyeyak biasanya sebab mengingat kita anaknya yang berada dikejauhan semua itu untuk memenuhi karena kita anaknya.


Teman-teman sekalian kita mesti menginsyafi setelah sarjana tantangan besar yang akan menanti pembuktian dan sentuhan dingin kita sebagai kaum intelek dan terdidik. Di masa mahasiswa mengkritisi banyak penyimpangan yang terjadi diluar sana, tapi pada saat sarjana kita menyatu kembali dengan kehidupan diluar kampus, mampukah kita tetap menghidup-hidupi daya kritis dan mental membawa perubahan, apakah kita akan larut dengan ritme kehidupan ? atau kita mengambil peran merebut kendali nahkoda untuk mewujudkan perubahan di tengah-tengah masyarakat. 


Berbanggalah kita di malam ini, karena dengan alasan untuk anak bangsa di masa depan kaum pejuang merelakan tetesan darahnya tergenang dan tubuh bugarnya menjadi benteng menyemai harapan, walaupun tak jarang tubuhnya malah menjadi sarang peluruh. Tapi, peluru itu hanya mampu menembus tubuhnya tidak dengan harapannya, sebab hari ini sebagai anak bangsa kita telah memetik buah dari perjuangan itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here