I Mallombasi Daeng Mattawang - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 12 Januari 2021

I Mallombasi Daeng Mattawang

 

Ilustrasi by Tribun-Timur.com

Tanah Celebes pernah menjadi saksi sejarah di masa silam atas kelahiran seorang bayi yang kelak memberi arti dan makna Jazirah Sulawesi Selatan.epat tanggal 12 Januari 1631 atau sekitar 390 tahun lalu.


Bayi yang lahir dilingkungan bangsawan Gowa dengan diberi nama I Mallombasi Daeng Mattawang. Tumbuh menjadi pemuda yang gagah berani dan punya pendirian yang teguh akan prinsip.


Yang kelak saat Bate Salapang melantik I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape dengan nama Islam Muhammad Baqir. Menggunakan nama Sultan Hasanuddin saat pengambilan sumpahnya sebagai Sombayya Ri Gowa yang ke-XVI. 


Sikap yang teguh dalam prinsip telah membuat Kerajaan Gowa tumbuh menjadi kerajaan yang disegani di Kawasan Indonesia Timur kala itu. Wilayah Kerajaan Gowa yang strategis dengan pengelolaan yang handal telah membuat para pedagang berkunjung di Kerajaan Gowa yang telah ramai dengan aktivitas perdagangan.


Sultan Hasanuddin sebagai Sombayya Ri  Gowa mampu memainkan percaturan politik kawasan bahkan skala internasional. Kerajaan Gowa mampu sejajar dengan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara bahkan Asia Tenggara.


Bulan Januari ini, tentu berbeda dengan 12 Januari 1631 saat kelahiran I Mallombasi Daeng Mattawang atau akrab disebut dengan Sultan Hasanuddin. Namun, semestinya bulan Januari ini menjadi spirit bagi segenap warga Sulawesi Selatan mengingat di bulan Januari-lah tokoh besar pahlawan nasional Sultan Hasanuddin dilahirkan.


Sultan Hasanuddin perlu dihidupkan dan ditransformasikan nilai-nilai yang senantiasa dipegangi dalam perjalanan hidupnya. Tokoh besar tentu memiliki pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan besar yang mesti dihidupkan. 


Secara fisik Sultan Hasanuddin telah terkubur di area makam Raja-Raja Gowa. Tetapi, pikiran-pikiran besar yang pernah dilakukan saat membawa Kerajaan Gowa menjadi kerajaan besar di Indonesia Timur itulah yang perlu dikaji, diteliti dan dikembangkan.


Transformasi nilai-nilai dari pikiran-pikiran Sultan Hasanuddin mesti mendapat ruang dan perhatian besar, bukan sekedar mengabadikannya di nama airport, jalan, gedung dan membuat patungnya. 


Pemikiran besar Sultan Hasanuddin perlu dihidupkan mengingat masa pandemi bukan hanya membutuhkan daya tahan imun. Namun, yang lebih penting daya tahan dalam memegang teguh psinsip.


Ungkapan Sultan Hasanuddin yang mahsyur kala menegur para pedagang Belanda atau Eropa yang ingin memonopoli perdagangan. Secara tegas Sultan Hasanuddin menyatakan bahwa "Laut merupakan kepunyaan Allah atau Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga tidak ada yang boleh mengganggu orang-orang yang dalam perjalanan".


Bila dikaji ungkapan Sultan Hasanuddin maka akan dipahami betapa care-nya terhadap nilai-nilai persamaan dan sikap konsisten dalam mempertahankan prinsip.


Kalau nilai-nilai itu ditransformasikan ke masa kini tentu akan memberikan efek besar bagi generasi muda untuk bertahan dengan segenap tantangan yang ada. Sultan Hasanuddin telah mencontohkan sikap yang teguh dan tak tergoyahkan dalam perjalanan hidupnya.


Bila tokoh-tokoh besar seperti Sun Tzu, Lao Tse, Sidarta Gautama dan Mahatma Gandhi mampu mengilhami prinsip-prinsip dagang Tionghoa dan India modern. Pemikiran Sultan Hasanuddin mesti juga ditransformasikan untuk menjadi refrensi demi menenun kemajuan di Sulawesi Selatan.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here