كَاسِيَاتٌ DALAM PERSPEKTIF HADIS - Fides Channel

www.fideschannel.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 22 Januari 2021

كَاسِيَاتٌ DALAM PERSPEKTIF HADIS

 

 

Ilustrasi By id.pinterest.com
 

St. Magfirah Nasir

Pakaian wanita dalam perspektif hadis dikategorikan sebagai pembahasan modern di era millenial. Akan tetapi, perkembangan zaman membawa perubahan gaya berpakaian atau lebih sederhananya bergaya mengikuti zaman, tidak dapat dipungkiri bahwa dipengaruhi oleh globalisasi. Penulis memunculkan pertanyaan dasar seperti; bagaimana pakaian wanita di era sekarang dalam perspektif hadis?, bagaimana hukum berpakaian wanita yang mengikuti gaya perubahan fassion? Apakah harus mengikuti trend saat ini? Pakaian seperti apakah yang dibolehkan dan dilarang? Apakah mengesampingkan hadis hanya karena ingin berpakaian gaul? Serta masih banyak pertanyaan lainnya yang membuntuti pikiran penulis.

Pakaian sebagai pelindung untuk manusia umumnya berfungsi untuk menjaga kesehatan, memperindah serta melindungi wanita dari bahaya dari luar. Sementara, pakaian wanita yang dimaksud ialah kain yang menutupi aurat dari kaum hawa, baik itu kerudung, baju (atasan), rok (bawahan), gamis dan sebagainya. Adapun hadis yang menjadi batasan penulis tentang pakaian yang pantas dikenakan untuk wanita yaitu fokus pada kata كَاسِيَاتٌ, sebagai berikut:

حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ مُسْلِمِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَرِيحُهَا يُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ[1]

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Muslim bin Abu Maryam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang dan berjalan melenggak-lenggok tidak akan masuk surga atau pun mencium baunya, padahal bau surga tercium dari jarak perjalanan lima ratus tahun.

Status hadis di atas dinilai sahih sebagaimana dalam kitab al-Luma’ min al-Shahih[2]. Penggalan kata pada hadis di atas نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ (nisa’un kaasiyaat ‘ariyaaat) diartikan sebagai wanita-wanita yang berpakain tetapi telanjang. Penulis menggunakan kitab Syarh al-Zarqaanii ‘ala Muwaththa’ al-Imam Malik: Wanita berpakaian tetapi masih disebut telanjang ialah berpakaian tipis, terbentuk dan terawang, sehingga nampak bagian tubuhnya. Wanita yang mampu akan tetapi mengindakan perintah Allah swt untuk menutup aurat dan tidak mengutamakan akhirat sebagai bentuk ketaatan pada Allah swt serta wanita yang menyingkap sebagian tubuhnya dari bawah guna mempertontonkan keindahan tubuh.[3]

Adapula syarah hadis dalam kitab Sahih Muslim dijelaskan bahwa نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ (nisaa´un kaasiyaatun ´aariyaatun) merupakan pakaian wanita yang hampa dan kurang bersyukur.[4] Sementara itu, مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ (maa ilaaatun mumiylaatun) merupakan seorang wanita berjalan dengan berlenggak-lengok dan condong ke depan bahunya.[5] Menurut penulis berdasarkan kitab syarah tersebut menunjukkan bahwa teks pada hadis di atas menggunakan bahasa majazi. Syarah hadis diartikan sebagai nasehat untuk diimplementasikan di kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, masih banyak segelintir wanita belum memahami perintah dan larangan. Padahal, telah diketahui pakaian atau busana merupakan perwujudan dari sifat dasar manusia yaitu rasa malu sehingga berusaha untuk menutupi tubuhnya.

Pakaian wanita mempunyai beragam corak, bahan, model, ukuran dan warna. Hal tersebut dipengaruhi oleh agama, adat-istiadat serta kebudayaan setempat. Dengan demikian, masalah pakaian wanita dalam Islam terlebih bila merujuk pada hadis Nabi saw, tidak hanya karena kultural tetapi lebih dari itu, anjuran Rasulullah untuk kaum hawa agar mawas diri. Riwayat atau semisal hadis di atas menjelaskan bahwa wanita adalah aurat dan ujian terberat bagi kaum adam, sehingga perlu untuk dijaga dan ditutupi. Islam telah mengajarkan tentang ketentuan-ketentuan dalam menjalankan tuntuan Nabi Muhammad saw, salah satunya berpakain yang baik dan benar.

Islam menawarkan solusi dalam kriteria pakaian wanita agar tetap aman di lingkungan masyarakat luar, sebagai berikut:[6] berpakaian dengan tidak menyerupai wanita kafir, tidak menyerupai pakaian lelaki dan berpakain dengan busana yang longgar atau tidak tabarruj. Hukum Islam sejalan dengan aturan hadis Nabi saw di atas dengan membatasi dengan tegas pakaian yang dipakai oleh wanita. Kata كَاسِيَاتٌ dalam perspektif hadis memiliki urgensi bahwa agar wanita dapat menjaga kehormatannya dan tidak diganggu oleh orang lain. Sebagai kesimpulannya, uraian mengenai kriteria pakaian wanita di atas termasuk adab dalam kehidupan sosial dan masyarakat yang harus mengikuti syariat Islam. Islam tidak melarang dan membatasi ketika wanita berbusana, namun hal tersebut dibolehkan selama tidak mengandung fitnah.

Wallahu a´lam bi al-shawwab.



[1]Sumber : Malik, Kitab : Lain-lain, Bab : Pakaian yang dimakruhkan untuk wanita, No. Hadis : 1421.

[2]Muhammad Nashruddin Muhammad ‘Ubadhah, al-Dhiya’ al-LUma’ min Shahih al-Kutub al-Sittah wa Shahih al-Jami’, juz. I, h. 525.

[3]Muhammad bin ‘Abd al-Baqi bin Yusuf al-Zarqaaniy al-Mashri al-Azhari, Syarhu al-Zarqaaniy ‘ala Muwaththa’ al-Imam Malik, juz. IV (Qahirah: Maktabah al-Tsaqaafah al-Diniyah, 2003), h. 427.

[4]file:///C:/Users/User/Downloads/1368-6033-1-PB.pdf

[5]Achyar Zein, Ardiansyah, firmansyah, Konsep Tabarruj dalam hadis: studi tentang kualitas dan pemahaman hadis mengenai adab berpakaian bagi wanita. At-tahdis: journal of hadith studies, vol.1, no.2 2017. Pascasarjana UIN Sumatera Utara.

[6]Ahmad Fauzi, Pakaian Wanita Muslimah dalam Hukum Islam, institut Agama Islam al-Qolam Gondanglengi, Malang, iqtishodia, jurnal Ekonomi Syariah, h. 13.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here